Meski baru dibentuk lima tahun lalu, pengembangan TIK sudah dilakukan di Kabupaten Halmahera Utara (Halut). Wujudnya, penggunaan akses internet di semua unit kerja dan adanya website. Tahun ini rencananya Pemkab sudah akan menggunakan aplikasi Simpeg dan Simreda serta menggelar training setingkat operator.
Ruang lobi Kantor Bupati Pemda Halmahera Utara (Halut) tergolong tidak begitu besar. Ukurannya sekitar lima kali enam meter persegi. Layaknya sebuah lobi, tak jauh dari pintu masuk terdapat kursi saling berhadapan di samping kiri dan kanan. Tepat di depan pintu masuk, dua orang staf Pemda bertindak sebagai penerima tamu. Meski terkesan sederhana, rupanya Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sudah menjamah ruang ini. Buktinya, di salah-satu dinding ruang lobi, terpampang layar monitor bergambar halaman depan website www.halmaherautara. com. Tak jauh dari layar monitor tepatnya agak belok kiri, ke arah ruang kerja bupati, terdapat CCTV (Closed Circuit Television). Kamera kecil ini merekam aktivitas yang terjadi di sekitar ruang lobi yang berdekatan dengan ruang kerja bupati.
Meski baru berusia lima tahun sejak pembentukan Mei 2003 lalu, Pemkab Halut sepertinya sudah menyadari pentingnya TIK. Seperti dituturkan oleh Hein Namotemo, Bupati Halut “Kami consern sekali terhadap TI,” tegasnya. Hanya saja, diakui Hein, pembangunan TIK di Halut masih jauh dari maksimal mengingat pembangunannya dilakukan secara bertahap. “Kalau boleh saya gambarkan perkembangan TIK di sini, bagaikan anak belum bisa lari, tapi sudah mulai berdiri,” begitu Hein berumpama.
Membangun Akses
Bila dilongok dari awal perkembangannya, TIK mulai menjamah kabupaten yang terdiri dari 22 kecamatan dan 177 desa ini, sejak Mei 2005. Ceritanya, ketika itu, Pemkab Halut mendapat bantuan dari UNDP (United Nations Development Programme) dan Pemprov Maluku Utara berupa VSAT berikut komputer dan DVD. Bantuan peralatan ini terkait program capacity building untuk meningkatkan kinerja aparat Pemda Halut. Selama enam bulan, terhitung Mei hingga Oktober 2005, Pemkab Halut mendapat akses internet gratis sebesar 256 Kbps. Hanya saja, bandwith sebesar itu harus di-share ke tiga Pemda lainnya yang juga mendapat bantuan dari UNDP dan Pemprov Maluku Utara. Artinya, Pemkab Halut hanya mendapatkan akses 64 Kbps dan dari jumlah ini harus dibagi lagi ke sejumlah unit kerja.
Begitu bantuan akses internet gratis ini rampung, Pemkab melalui Bappeda tetap meneruskan program tersebut dengan membayar sendiri langganan band-with sebesar Rp 6 juta/bulan ke ISP Padi Internet yang bekerja sama dengan Singtel Singapura. Selanjutnya bandwith sebesar 64 Kbps tetap di-share ke sejumlah unit kerja. Seiring makin banyaknya unit kerja yang ingin akses internet, maka pada 2007, kapasitas bandwith ditingkatkan menjadi 256 Kbps. Di sini Pemda Halut berlangganan dalam bentuk paket 1024 Kbps bersama tiga klien lainnya. “Ketika tiga klien lainnya sedang tidak menggunakan internet, kami bisa akses dengan cepat,” terang Rymond Novianus Batawi, Plt Kasi Teknologi Informasi Bappeda Kabupaten Halut. Sebaliknya, ketika jam kerja apalagi semua unit kerja yang berjumlah 32 SKPD mengakses internet, maka sudah bisa ditebak berselancar di dunia maya menjadi lambat.
Soal koneksi internet, kini semua unit kerja di Pemkab sudah mengaksesnya. Minimal satu unit komputer di masing-masing SKPD (Satuan Kerja Pemerintah Daerah) sudah tersambung internet. Sebagai gambaran, rata-rata setiap SKPD didukung oleh tiga komputer. Khusus untuk ruang Infokom dan Protokoler didukung empat unit komputer yang semuanya ter-connecting dengan internet. Sebagai unit kerja yang mengemban tugas mengkoordinir kegiatan infokom dan data, hubungan masyarakat dan kegiatan keprotokolan, tentu perlu didukung lebih dari 1 komputer yang tersambung dengan internet. Asal tahu saja, bidang Infokom yang berada di bawah Sekda tepatnya Asisten II, tidak saja berkutat dengan pembangunan TIK. Lebih dari itu, ia mengemban fungsi Humas. Selain itu, TIK juga menjadi sub unit yang berada di bawah bidang Litbang Bappeda Kabupaten Halut. Nah, selama ini, urusan TIK lebih banyak ditangani oleh SDM Bappeda.
Masih terkait akses, di awal 2008, Pemkab menyediakan fasilitas hotspot gratis di sekitar area Kantor Bupati. Terobosan ini dilakukan Pemkab untuk memberikan fasilitas kepada para tamu, kalangan akademisi, dan mereka yang membutuhkan akses saat berada di Kantor Bupati. “Jadi kalau ada tamu datang, mereka bisa akses internet dengan mudah,” terang Kepala Bagian Infokom dan Protoker Kabupaten Halut, Alfatah Sibua. Maklum, di Halut tepatnya di ibu kota Tobelo, hingga kini baru ada satu warnet dengan tarif Rp 10.000/jam.
www.halmaherautara.com
Promosi dengan Website
Selain akses, kabupaten yang masuk dalam Provinsi Maluku Utara ini, sudah memiliki website sejak pertengahan 2007 lalu. Meski belum begitu lama, kabupaten yang kebanyakan masyarakatnya bekerja sebagai petani dan nelayan ini, mempunyai dua website. Pertama, www.halut.com yang juga bisa diklik di www. halutkab. go.id. Konten website berisi informasi seputar Pemda Halut dan pengelolaannya ditangani oleh Bappeda bekerja sama dengan Bagian Infokom. Kedua, www. halmaherautara.com yang mengusung informasi khusus pariwisata di Halut. Website ini berada di bawah tanggung jawab Dinas Pariwisata Kabupaten Halut. Pembuatan website, menurut Alfatah, tak bisa dilepaskan dari pencananganan “Halut Go Internasional 2010”. “Website digunakan sebagai sarana untuk mempromosikan Halut,” terang Alfatah. Hanya saja, konten website belum di-update secara rutin. Praktis, informasi yang dipublikasikan tak banyak berubah. Sejatinya, sebagai pintu gerbang Halut di dunia maya, update konten harus dilakukan secara rutin.
www.hal-ut.com
Toh hal ini tidak dipungkiri oleh Alfatah. Ia menyadari sejumlah permasalahan masih mewarnai pengembangan TIK di Halut termasuk belum terupdate website secara rutin. “Ini terjadi karena berbagai sebab,” akunya. Sebut saja langkanya SDM TI di pemerintahan dan minimnya instruktur TI. Selain itu, ditambahkan Rymond, keterbasan pengetahuan operator di masing-masing unit kerja juga turut menjadi faktor penyebab. Imbasnya, penggunaan internet belum maksimal. Artinya, internet baru digunakan sebatas mengirim email serta membuka website. “Belum digunakan untuk transfer data antar unit kerja atau koordinasi,” aku jebolan Universitas Satya Wacana jurusan pertanian ini. Sebenarnya, lanjut Rymond, unit kerja sudah bisa online melalui Yahoo Messanger. Hanya saja, tidak semua unit kerja online saat jam kerja. “Unit tertentu saja yang selalu online,” tutur pria yang menjadi tumpuan semua unit kerja bila terjadi kerusakan komputer ini.
Siapkan SDM dan Aplikasi
Mengingat belum semua operator di semua unit kerja well IT, rencananya akan digelar training. Targetnya semua operator bisa mengoperasikan dan memanfaatkan akses internet untuk mendukung kinerja Pemkab. Sejauh ini, meski sudah pernah digelar training setingkat operator, belum semuanya bisa mengemban amanah dengan baik. Sejalan dengan itu, dalam waktu dekat, Pemkab akan menerapkan aplikasi Sistem Kepegawaian (Simpeg) dan Sistem Perencanaan Daerah (Simreda).
Masih di 2008, Pemkab bakal menambah bandwith dari 256 Kbps menjadi 1 Mega Kbps. Penambahan ini, menurut Rymond, lantaran semakin banyaknya pihak di luar lingkungan Pemkab yang ingin akses internet. “Ada permintaan dari PT Hibualamo selaku BUMD, Koperasi, hingga sejumlah perguruan tinggi yang mengajukan permohonan akses ke Pak Bupati,” terang PNS yang juga pemilik warnet ini. Munculnya permintaan ini menandakan akses internet mulai menjadi kebutuhan bagi masyarakat Halut. Semoga dengan begitu, Halut bisa merealisasikan tekadnya untuk go internasional. (Faizah Rozy)
Sumber :
http://www.majalaheindonesia.com/halut-e-gov.htm
Minggu, 24 Januari 2010
Kepulauan Widi di Halmahera Selatan
Obyek wisata Kepulauan Widi di Kabupaten Halmahera Selatan menjadi andalan bagi pemerintah setempat untuk menarik minat wisatawan domestik dan mancanegara ke daerah itu.
Bupati Halmahera Selatan Muhammad Kasuba, Jumat (6/3), di Labuha mengatakan, Pemkab Halsel menjadikan Kepulauan Widi menjadi andalan antara lain karena pantai pasir putihnya yang tak kalah indah dibandingkan Pantai Kuta di Bali. Juga panorama bawah lautnya yang keindahannya setara dengan panorama bawah laut di Raja Ampat, Papua.
Bahkan, Kata Bupati Muhammad Kasuba, panorama bawah laut di Kepulauan Widi memiliki lebih indah dibanding taman laut lainnya di Indonesia, terutama terumbu karangnyanya yang secara umum masih dalam kondisi baik. Di Kepulauan Widi juga ada hutan yang masih alami dan dihuni berbagai jenis burung.
Untuk memasarkan Kepulauan Widi, pemda setempat telah menjalin kerja sama dengan Pemkab Raja Ampat untuk mengarahkan wisatawan juga ke Kepulauan Widi setelah dari Raja Ampat.
Penerbangan dari Manado
Obyek wisata Kepulauan Widi terletak di perbatasan antara Kabupaten Halmahera Selatan dan Kabupaten Raja Ampat.
Untuk mencapai Kepulauan Widi, dari Raja Ampat hanya dibutuhkan waktu sekitar 4 jam menggunakan speed boat. Pemkab Halsel saat ini juga tengah mengupayakan penerbangan langsung dari Manado ke Labuha, Ibu Kota Kabupaten Halsel, sehingga wisatawan yang berkunjung di Manado bisa dengan mudah melanjutkan kunjungan ke Kepulauan Widi.
Prasarama menuju Kepulauan Widi juga sdang dibenahi. Akomodasi bagi wisatawan, seperti hotel dan penginapan memang belum ada, tetapi wisatawan bisa menggunakan rumah penduduk. Bisa juga menginap di hotel-hotel di Labuha.
Cara termudah saat ini untuk mencapai Kepulauan Widi adalah melalui Ternate. Dari Ternate wisatawan bisa ke Labuha menggunakan kapal laut atau pesawat perintis (dua kali seminggu), selanjutnya ke Kepulauan Widi menggunakan kapal laut melalui Gane Timur.
Sumber:
http://www.indomp3z.us/showthread.php?t=95430
Bupati Halmahera Selatan Muhammad Kasuba, Jumat (6/3), di Labuha mengatakan, Pemkab Halsel menjadikan Kepulauan Widi menjadi andalan antara lain karena pantai pasir putihnya yang tak kalah indah dibandingkan Pantai Kuta di Bali. Juga panorama bawah lautnya yang keindahannya setara dengan panorama bawah laut di Raja Ampat, Papua.
Bahkan, Kata Bupati Muhammad Kasuba, panorama bawah laut di Kepulauan Widi memiliki lebih indah dibanding taman laut lainnya di Indonesia, terutama terumbu karangnyanya yang secara umum masih dalam kondisi baik. Di Kepulauan Widi juga ada hutan yang masih alami dan dihuni berbagai jenis burung.
Untuk memasarkan Kepulauan Widi, pemda setempat telah menjalin kerja sama dengan Pemkab Raja Ampat untuk mengarahkan wisatawan juga ke Kepulauan Widi setelah dari Raja Ampat.
Penerbangan dari Manado
Obyek wisata Kepulauan Widi terletak di perbatasan antara Kabupaten Halmahera Selatan dan Kabupaten Raja Ampat.
Untuk mencapai Kepulauan Widi, dari Raja Ampat hanya dibutuhkan waktu sekitar 4 jam menggunakan speed boat. Pemkab Halsel saat ini juga tengah mengupayakan penerbangan langsung dari Manado ke Labuha, Ibu Kota Kabupaten Halsel, sehingga wisatawan yang berkunjung di Manado bisa dengan mudah melanjutkan kunjungan ke Kepulauan Widi.
Prasarama menuju Kepulauan Widi juga sdang dibenahi. Akomodasi bagi wisatawan, seperti hotel dan penginapan memang belum ada, tetapi wisatawan bisa menggunakan rumah penduduk. Bisa juga menginap di hotel-hotel di Labuha.
Cara termudah saat ini untuk mencapai Kepulauan Widi adalah melalui Ternate. Dari Ternate wisatawan bisa ke Labuha menggunakan kapal laut atau pesawat perintis (dua kali seminggu), selanjutnya ke Kepulauan Widi menggunakan kapal laut melalui Gane Timur.
Sumber:
http://www.indomp3z.us/showthread.php?t=95430
Seni Budaya, Wisata Unggulan Halmahera Barat
KABUPATEN Halmahera Barat adalah salah satu kabupaten yang berada Provinsi Maluku Utara. Secara geografis kabupaten ini terletak di antara 1o-3o Lintang Utara dan 123o-128o Bujur Timur. Luas wilayah kabupaten ini terdiri dari 11.623.42 Km2 wilayah laut dan 22,346 Km2 wilayah darat dan memiliki sejumlah pulau-pulau kecil yang sangat indah. Pulau-pulau itu terdiri dari 123 pulau yang dua diantaranya berpenghuni sedangkan yang lainnya merupakan pulau tanpa pemghuni.
Halmahera Barat dihuni oleh penduduk yang beraneka ragam suku/etnis yang cukup tinggi. Suku-suku ini terbagi menjadi dua, yaitu suku asli dan suku pendatang. Suku asli di daerah ini adalah suku Sahu, Suku Ternate, suku Wayoli, suku Gorap, suku Loloda dan suku Gamkonora, sementara suku pendatang antara lain suku Sangier, suku Makian, suku Ambon, suku Tidore, suku Jawa dan suku Gorontalo. Dengan Kondisi tersebut memberikan Kosentrasi pada keragaman bahasa, adat istiadat dan tradisi masyarakat di kabupaten paling barat pulau Halmahera ini.
Sebagai salah satu daerah tujuan wisata, tentunya Halmahera Barat memiliki keragaman obyek wisata dan daya tarik yang patut diancungi jempol. Sebagai aset derah, obyek wisata di kabupaten Halmahera Barat sebagiannya sudah dikelola oleh pemerintah kabupaten. Aset wisata yang sudah dikelola ini diantaranya sebagian wisata tirta, wisata seni dan budaya, dan wisata sejarah. Sedangkan aset wisata lainnya seperti wisata alam, wisata agro, wisata fauna dan sebagian wisata tirta masih dalam program perencanaan pengembangan wisata oleh pemkab Halbar.
Salah satu aset wisata yang diunggulkan adalah seni dan budaya khususnya adat istiadat suku-suku yang tumbuh dan sangat dipelihara oleh masing-masing suku di kabupaten ini. Adalah lembah Sahu, lembah yang dapat ditempuh lewat jalur darat sepanjang 15 Km dari ibukota kabupaten setelah melewati pintu masuk pelabuhan Ternate menuju pelabuhan Jailolo. Lembah yang sejak dahulu kala sangat memanjakan penghuninya dengan kekayaan alam yang melimpah ruah ini dihuni oleh masyarakat suku Sahu yang memiliki intensitas adat istiadat yang cukup tinggi.
Secara administrasi masyarakat suku ini dibagi atas dua daerah pemekaran, yakni kecamatan Sahu Barat dan Sahu Timur.Walaupun secara administratif kecamatan ini sudah terbagi dalam dua wilayah yang berbeda namun adat istiadat suku ini tetap terjaga dan menjadi satu kesatuan yang kokoh.
Hal ini dapat dilihat dengan adanya sasa’du (rumah adat suku Sahu) di setiap kampong-kampong (desa-desa) yang terdapat di dua kecamatan tersebut, bahkan di kecamatan Jailolo juga terdapat beberapa rumah adat yang tetap berdiri kokoh di tengah-tengah perkampungan masyarakat.
Dengan adanya sasa’du di kampong-kampong ini menandakan bahwa kampong tersebut didiami oleh masyarakat yang berasal dari suku Sahu dan menjunjung tinggi adat istiadat suku mereka.
Berdasarkan sejarah, suku Sahu pada mulanya bernama Jio Jepung Malamo yang kemudian berganti nama menjadi Sahu. Nama ini adalah nama suku yang diberikan oleh sultan Ternate. Pergantian nama ini bermula ketika sangaji (orang yang memerintah suku ini) dipanggil menghadap sultan Ternate. Pada waktu sangaji bertemu dengan sultan, is sedang makan sahur makanan beliau pun berkata dalam bahasa Ternate “Hara kane si jou sahur,jadi kane suku ngana si golo ngana jiko sahu” yang artinya “karena kau sangaji datang pada waktu sultan sedang makan sahur, maka kemudian hari ini kau akan mendirikan daerahmu dan namailah sahu.
Pada zaman kesultanan Ternate sesudah Baab Mansyur Malamo, suku Sahu memiliki dua kelompok kerja yaitu Tala’i dan Pa’disua. Kedua kelompok ini memiliki kewajiban yang diberikan oleh sultan Ternate untuk berbakti dan membawa upeti kepada kesultanan Ternate. Asal muasal kedua nama kelompok ini, yaitu ketika agama Islam disebarkan oleh sultan Ternate di daratan Halmahera, kelompok masyarakat yang tinggal di daerah pedalaman lembah Sahu ini tidak menyambut dan mendengarkan panggilan sultan yang pada saat itu menyebarkan agama Islam. Kelompok ini tidak terpengaruh karena kepercayaan mereka terhadap agama suku masih sangat kuat, kelompok ini disebut Pa’dus ua yang artinya dipanggil tapi tidak menyahut. Sedangkan kelompok yang menyambut maksud kedatangan sultan disebut tala;i yang artinya berhadapan (berhadapan dengan sultan).
Walaupun kelompok Pa’dus ua tidak menyahut panggilan sultan di saat beliau menyebarkan agama Islam, kelompok ini tetap mengabdi kepada kesultanan Ternate. Perbedaan kelompok suku ini juga membedakan dialektika tutur bahasa masing-masing kelompok yang terkenal dengan bahasa sahu dialek Pa’dus ua dan bahasa Sahu dialek Tala’i.
Struktur pemerintahan suku Sahu
Struktur pemerintahan suku Sahu pada zaman kejayaan sultan, suku ini dipimpin oleh seorang pimpinan yang disebut Walasae, dibawa walasae ada seorang panglima yang disebut kapita/momole, kemudian dibawah kapita ada walangotom (prajurit yang selalu siap siaga mendengar komando dari kapita dalam hal ini pertahanan keamanan). Kemudian ada Jou Ma Bela (kaum masyarakat yang bertugas membawa upeti kepada sultan Ternate).Di bawah Jou Ma bela ada guru yang bertugas dalam hal keagamaan yang didampingi oleh khalifa, dan yang paling terakhir adala ngofa repe sebutan kepada masyarakat kampong, ,sedangkan di atas struktur ini ada lembaga kesultanan yang disebut babato madopolo dan sultan sebagai kepala negara atau kepala pemerintahan yang terkenal dengan nama Maloku Kie Raha hingga sekarang.
Struktur masyarakat ini pada akhirnya berubah, perubahannya yaitu fomanyira (pemimpin desa) memiliki kedudukan tertinggi dan bertugas mengatur kehidupan dan kesejahteraan bala rakyat. Di bawah fomanyira ada sebuah institusi masyarakat yang disebut gam ma kale yang terdiri dari wala sae dan wala ngotom yang tugasnya mengatur dan menegakan hukum adat serta syukuran atas hasil panen pertanian mereka Di bawa gam ma kale ada baba masohi sebutan kepada tua-tua kampong yang bertugas mendampingi Gam Ma Kale dalam hal penegakan hukum adat, dan yang paling terenakhir adalah ngoa repe atau masyaakat kampong.
Kehidupan sosial suku Sahu sejak dahulu kala sudah memahami bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa manusia lain. Hal inilah yang mendorong masyarakat ini membentuk kelompok-kelompok kerja baik untuk keperluan kerajaan Ternate maupun kegiatan kemasyarakatan untuk mencapai tujuan tertentu.
Kegiatan gotong royong yang diciptakan oleh nenek moyang itu terwarisi sampai sekarang. Pada lingkungan keluarga biasanya ada hubungan kerja sama sebagai tanggung jawab. Misalnya kerjasama dalam mempersiapkan upacara perkawinan anggota keluarga mereka, upacara pemakaman, dan acara-acara keluarga lainnya. Ada pula dalam lingkungan masyarakat dibentuk kelompok kerja yang disebut rion-rion. Kelompok ini biasanya setiap anggota mempunyai tujuan yang sama, misalnya berkebun, mengolah hasil pertanian, dan membangun rumah para anggota kelompok tersebut.
Masyarakat suku Sahu memiliki berbagai macam budaya suku, seperti adat istiadat dalam melaksanakan upacara perkawinan,upacara pemakaman,adat istiadat dalam pembagian harta,serta budaya sasa’du (upacara pada rumah adat). RANWARD NGITU
Sumber :
http://aspirasinews.wordpress.com/2008/12/24/seni-budaya-wisata-unggulan-halmahera-barat/
24 Desember 2008
Halmahera Barat dihuni oleh penduduk yang beraneka ragam suku/etnis yang cukup tinggi. Suku-suku ini terbagi menjadi dua, yaitu suku asli dan suku pendatang. Suku asli di daerah ini adalah suku Sahu, Suku Ternate, suku Wayoli, suku Gorap, suku Loloda dan suku Gamkonora, sementara suku pendatang antara lain suku Sangier, suku Makian, suku Ambon, suku Tidore, suku Jawa dan suku Gorontalo. Dengan Kondisi tersebut memberikan Kosentrasi pada keragaman bahasa, adat istiadat dan tradisi masyarakat di kabupaten paling barat pulau Halmahera ini.
Sebagai salah satu daerah tujuan wisata, tentunya Halmahera Barat memiliki keragaman obyek wisata dan daya tarik yang patut diancungi jempol. Sebagai aset derah, obyek wisata di kabupaten Halmahera Barat sebagiannya sudah dikelola oleh pemerintah kabupaten. Aset wisata yang sudah dikelola ini diantaranya sebagian wisata tirta, wisata seni dan budaya, dan wisata sejarah. Sedangkan aset wisata lainnya seperti wisata alam, wisata agro, wisata fauna dan sebagian wisata tirta masih dalam program perencanaan pengembangan wisata oleh pemkab Halbar.
Salah satu aset wisata yang diunggulkan adalah seni dan budaya khususnya adat istiadat suku-suku yang tumbuh dan sangat dipelihara oleh masing-masing suku di kabupaten ini. Adalah lembah Sahu, lembah yang dapat ditempuh lewat jalur darat sepanjang 15 Km dari ibukota kabupaten setelah melewati pintu masuk pelabuhan Ternate menuju pelabuhan Jailolo. Lembah yang sejak dahulu kala sangat memanjakan penghuninya dengan kekayaan alam yang melimpah ruah ini dihuni oleh masyarakat suku Sahu yang memiliki intensitas adat istiadat yang cukup tinggi.
Secara administrasi masyarakat suku ini dibagi atas dua daerah pemekaran, yakni kecamatan Sahu Barat dan Sahu Timur.Walaupun secara administratif kecamatan ini sudah terbagi dalam dua wilayah yang berbeda namun adat istiadat suku ini tetap terjaga dan menjadi satu kesatuan yang kokoh.
Hal ini dapat dilihat dengan adanya sasa’du (rumah adat suku Sahu) di setiap kampong-kampong (desa-desa) yang terdapat di dua kecamatan tersebut, bahkan di kecamatan Jailolo juga terdapat beberapa rumah adat yang tetap berdiri kokoh di tengah-tengah perkampungan masyarakat.
Dengan adanya sasa’du di kampong-kampong ini menandakan bahwa kampong tersebut didiami oleh masyarakat yang berasal dari suku Sahu dan menjunjung tinggi adat istiadat suku mereka.
Berdasarkan sejarah, suku Sahu pada mulanya bernama Jio Jepung Malamo yang kemudian berganti nama menjadi Sahu. Nama ini adalah nama suku yang diberikan oleh sultan Ternate. Pergantian nama ini bermula ketika sangaji (orang yang memerintah suku ini) dipanggil menghadap sultan Ternate. Pada waktu sangaji bertemu dengan sultan, is sedang makan sahur makanan beliau pun berkata dalam bahasa Ternate “Hara kane si jou sahur,jadi kane suku ngana si golo ngana jiko sahu” yang artinya “karena kau sangaji datang pada waktu sultan sedang makan sahur, maka kemudian hari ini kau akan mendirikan daerahmu dan namailah sahu.
Pada zaman kesultanan Ternate sesudah Baab Mansyur Malamo, suku Sahu memiliki dua kelompok kerja yaitu Tala’i dan Pa’disua. Kedua kelompok ini memiliki kewajiban yang diberikan oleh sultan Ternate untuk berbakti dan membawa upeti kepada kesultanan Ternate. Asal muasal kedua nama kelompok ini, yaitu ketika agama Islam disebarkan oleh sultan Ternate di daratan Halmahera, kelompok masyarakat yang tinggal di daerah pedalaman lembah Sahu ini tidak menyambut dan mendengarkan panggilan sultan yang pada saat itu menyebarkan agama Islam. Kelompok ini tidak terpengaruh karena kepercayaan mereka terhadap agama suku masih sangat kuat, kelompok ini disebut Pa’dus ua yang artinya dipanggil tapi tidak menyahut. Sedangkan kelompok yang menyambut maksud kedatangan sultan disebut tala;i yang artinya berhadapan (berhadapan dengan sultan).
Walaupun kelompok Pa’dus ua tidak menyahut panggilan sultan di saat beliau menyebarkan agama Islam, kelompok ini tetap mengabdi kepada kesultanan Ternate. Perbedaan kelompok suku ini juga membedakan dialektika tutur bahasa masing-masing kelompok yang terkenal dengan bahasa sahu dialek Pa’dus ua dan bahasa Sahu dialek Tala’i.
Struktur pemerintahan suku Sahu
Struktur pemerintahan suku Sahu pada zaman kejayaan sultan, suku ini dipimpin oleh seorang pimpinan yang disebut Walasae, dibawa walasae ada seorang panglima yang disebut kapita/momole, kemudian dibawah kapita ada walangotom (prajurit yang selalu siap siaga mendengar komando dari kapita dalam hal ini pertahanan keamanan). Kemudian ada Jou Ma Bela (kaum masyarakat yang bertugas membawa upeti kepada sultan Ternate).Di bawah Jou Ma bela ada guru yang bertugas dalam hal keagamaan yang didampingi oleh khalifa, dan yang paling terakhir adala ngofa repe sebutan kepada masyarakat kampong, ,sedangkan di atas struktur ini ada lembaga kesultanan yang disebut babato madopolo dan sultan sebagai kepala negara atau kepala pemerintahan yang terkenal dengan nama Maloku Kie Raha hingga sekarang.
Struktur masyarakat ini pada akhirnya berubah, perubahannya yaitu fomanyira (pemimpin desa) memiliki kedudukan tertinggi dan bertugas mengatur kehidupan dan kesejahteraan bala rakyat. Di bawah fomanyira ada sebuah institusi masyarakat yang disebut gam ma kale yang terdiri dari wala sae dan wala ngotom yang tugasnya mengatur dan menegakan hukum adat serta syukuran atas hasil panen pertanian mereka Di bawa gam ma kale ada baba masohi sebutan kepada tua-tua kampong yang bertugas mendampingi Gam Ma Kale dalam hal penegakan hukum adat, dan yang paling terenakhir adalah ngoa repe atau masyaakat kampong.
Kehidupan sosial suku Sahu sejak dahulu kala sudah memahami bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa manusia lain. Hal inilah yang mendorong masyarakat ini membentuk kelompok-kelompok kerja baik untuk keperluan kerajaan Ternate maupun kegiatan kemasyarakatan untuk mencapai tujuan tertentu.
Kegiatan gotong royong yang diciptakan oleh nenek moyang itu terwarisi sampai sekarang. Pada lingkungan keluarga biasanya ada hubungan kerja sama sebagai tanggung jawab. Misalnya kerjasama dalam mempersiapkan upacara perkawinan anggota keluarga mereka, upacara pemakaman, dan acara-acara keluarga lainnya. Ada pula dalam lingkungan masyarakat dibentuk kelompok kerja yang disebut rion-rion. Kelompok ini biasanya setiap anggota mempunyai tujuan yang sama, misalnya berkebun, mengolah hasil pertanian, dan membangun rumah para anggota kelompok tersebut.
Masyarakat suku Sahu memiliki berbagai macam budaya suku, seperti adat istiadat dalam melaksanakan upacara perkawinan,upacara pemakaman,adat istiadat dalam pembagian harta,serta budaya sasa’du (upacara pada rumah adat). RANWARD NGITU
Sumber :
http://aspirasinews.wordpress.com/2008/12/24/seni-budaya-wisata-unggulan-halmahera-barat/
24 Desember 2008
Profil Kabupaten Halmahera Timur
Kabupaten Halmahera Timur merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Maluku Utara. Terbagi menjadi 4 kecamatan dengan Maba sebagai ibukota kabupaten. Wilayahnya sendiri berbatasan dengan Teluk Kau di sebelah utara, Kabupaten Halmahera Tengah di sebelah selatan, Teluk Kau dan Kota Tidore Kepulauan di sebelah barat, serta Teluk Buli dan Samudera Pasifik di sebelah timur.
Sebagai daerah agraris yang meliputi 41 desa, pertanian menjadi mata pencaharian sebagian besar penduduk. Selain tanaman pangan seperti padi, jagung, ubi kayu, kacang tanah dan kacang kedelai, penduduk menanami pula dengan sayur sayuran seperti cabai, terong, kacang panjang dan bayam. Deretan nyiur yang memagari pesisi pantai Halmahera Timur sebagian besar berasal bukan dari jenis hibrida, melainkan kelapa dalam. Meski banyak yang bisa dimanfaatkan dari tanaman kelapa, oleh masyarakat setempat tanaman keras ini hanya di jual dalam bentuk kopra sehingga potensi kehadiran industri pengolahan kelapa sangat dibutuhkan.
Di sektor usaha perikanan, dukungan terhadap perekonomian daerah ini masih harus dikembangkan. Dengan adanya 4 kecamatan yang berhadapan langsung dengan teluk dan lautan lepas serta adanya kelompok nelayan seperti Mabapura, Bicoli, Wayamli dan lain-lain, menyimpan potensi yang cukup besar. Halmahera sendiri memang terletak di kepulauan Maluku Utara yang berpotensi besar menghasilkan berbagai jenis pelagis atau ikan permukaan berukuran besar dan kecil.
Kabupaten ini juga menyimpan kekayaan bahan tambang. Salah satu komoditi yang menjadi unggulan adalah nikel. Ada tiga sumber tambang nikel Halmahera Timur, yakni Mabapura, Buli dan Pulau Pakal.
Sumber Data:
Maluku Utara Dalam Angka 2007
(01-9-2007)
BPS Propinsi Maluku Utara
Jl. Inpres Ubo-Ubo, Ternate 97717
Telp (0921) 327878
Fax (0921) 327878
Sumber :
http://regionalinvestment.com/newsipid/id/displayprofil.php?ia=8206
Sebagai daerah agraris yang meliputi 41 desa, pertanian menjadi mata pencaharian sebagian besar penduduk. Selain tanaman pangan seperti padi, jagung, ubi kayu, kacang tanah dan kacang kedelai, penduduk menanami pula dengan sayur sayuran seperti cabai, terong, kacang panjang dan bayam. Deretan nyiur yang memagari pesisi pantai Halmahera Timur sebagian besar berasal bukan dari jenis hibrida, melainkan kelapa dalam. Meski banyak yang bisa dimanfaatkan dari tanaman kelapa, oleh masyarakat setempat tanaman keras ini hanya di jual dalam bentuk kopra sehingga potensi kehadiran industri pengolahan kelapa sangat dibutuhkan.
Di sektor usaha perikanan, dukungan terhadap perekonomian daerah ini masih harus dikembangkan. Dengan adanya 4 kecamatan yang berhadapan langsung dengan teluk dan lautan lepas serta adanya kelompok nelayan seperti Mabapura, Bicoli, Wayamli dan lain-lain, menyimpan potensi yang cukup besar. Halmahera sendiri memang terletak di kepulauan Maluku Utara yang berpotensi besar menghasilkan berbagai jenis pelagis atau ikan permukaan berukuran besar dan kecil.
Kabupaten ini juga menyimpan kekayaan bahan tambang. Salah satu komoditi yang menjadi unggulan adalah nikel. Ada tiga sumber tambang nikel Halmahera Timur, yakni Mabapura, Buli dan Pulau Pakal.
Sumber Data:
Maluku Utara Dalam Angka 2007
(01-9-2007)
BPS Propinsi Maluku Utara
Jl. Inpres Ubo-Ubo, Ternate 97717
Telp (0921) 327878
Fax (0921) 327878
Sumber :
http://regionalinvestment.com/newsipid/id/displayprofil.php?ia=8206
Festival Teluk Jilolo, Mengenal Keindahan Halmahera Barat
Festival Teluk Jilolo (FTK) yang akan digelar Pemkab Halmahera Barat (Halbar), Maluku Utara (Malut) di kawasan Teluk Jilolo pada 18-23 November 2009 diupayakan masuk dalam kalender tahunan kegiatan wisata nasional.
"Pemkab Halbar telah menetapkan FTK tersebut digelar setiap tahun mulai tahun ini. Pemkab akan mengupayakan FTK masuk dalam kalender tahunan kegiatan wisata nasional," kata Kadis Pemuda Kebudayaan dan Pariwisata Halbar Khalbi Rasyid di Ternate, akhir pekan lalu.
Jika FTK masuk dalam kalender tahunan kegiatan wisata nasional, selain pelaksanaannya akan diketahui secara luas, juga akan memudahkan pengusaha biro perjalan memprogramkan paket kunjungan wisata ke Halbar.
Menurut Khalbi, FTK yang digelar 18-23 November 2009 akan dimeriahkan dengan pementasan budaya dan kesenian tradisonal Halbar serta kegiatan yang terkait dengan bahari.
Kegiatan yang terkait dengan bahari di antaranya parade perahu hias, lomba renang, lomba perahu dayung dan selam. Khusus untuk kegiatan lomba renang dan dayung, pemkab menyediakan hadiah total Rp 200 juta lebih.
"Masyarakat Halbar antusias untuk berpartisipasi pada FTK tersebut, terutama pada lomba dayung dan renang. Saat ini sudah ada ratusan pendaftar pada kedua lomba itu," katanya.
Pemkab Halbar telah mempromosikan pelaksanaan FTK tersebut kepada berbagai pihak terkait, termasuk kepada para pengusaha biro perjalan di sejumlah kota di Indonesia, namun sejauh ini belum dipastikan apakah mereka akan mendatangkan wisatawan pada FTK itu.
Khalbi mengatakan pengunjung di FTK selain dapat menyaksikan kemeriahan berbagai kegiatan juga dapat menyaksikan keindahan panorama bawah laut di perairan teluk Jailolo.
Terumbu karang di perairan teluk Jailolo cukup indah dan umumnya masih dalam kondisi baik. Di sela-sela terumbu karang dapat diskasikan aneka ragam biota laut seperti ikan, bintang laut dan kerang laut.
"Bahkan dapat pula ditemukan keong japanis spy, sejenis keong laut langka. Selama ini keong seperti itu di Indonesia hanya ditemukan di perairan Raja Ampat, Papua Barat," kata Khalbi Rasyid.
Sumber :
http://travel.kompas.com/read/2009/11/16/09421982/Festival.Teluk.Jilolo..Mengenal.Keindahan.Halmahera.Barat
16 November 2009
"Pemkab Halbar telah menetapkan FTK tersebut digelar setiap tahun mulai tahun ini. Pemkab akan mengupayakan FTK masuk dalam kalender tahunan kegiatan wisata nasional," kata Kadis Pemuda Kebudayaan dan Pariwisata Halbar Khalbi Rasyid di Ternate, akhir pekan lalu.
Jika FTK masuk dalam kalender tahunan kegiatan wisata nasional, selain pelaksanaannya akan diketahui secara luas, juga akan memudahkan pengusaha biro perjalan memprogramkan paket kunjungan wisata ke Halbar.
Menurut Khalbi, FTK yang digelar 18-23 November 2009 akan dimeriahkan dengan pementasan budaya dan kesenian tradisonal Halbar serta kegiatan yang terkait dengan bahari.
Kegiatan yang terkait dengan bahari di antaranya parade perahu hias, lomba renang, lomba perahu dayung dan selam. Khusus untuk kegiatan lomba renang dan dayung, pemkab menyediakan hadiah total Rp 200 juta lebih.
"Masyarakat Halbar antusias untuk berpartisipasi pada FTK tersebut, terutama pada lomba dayung dan renang. Saat ini sudah ada ratusan pendaftar pada kedua lomba itu," katanya.
Pemkab Halbar telah mempromosikan pelaksanaan FTK tersebut kepada berbagai pihak terkait, termasuk kepada para pengusaha biro perjalan di sejumlah kota di Indonesia, namun sejauh ini belum dipastikan apakah mereka akan mendatangkan wisatawan pada FTK itu.
Khalbi mengatakan pengunjung di FTK selain dapat menyaksikan kemeriahan berbagai kegiatan juga dapat menyaksikan keindahan panorama bawah laut di perairan teluk Jailolo.
Terumbu karang di perairan teluk Jailolo cukup indah dan umumnya masih dalam kondisi baik. Di sela-sela terumbu karang dapat diskasikan aneka ragam biota laut seperti ikan, bintang laut dan kerang laut.
"Bahkan dapat pula ditemukan keong japanis spy, sejenis keong laut langka. Selama ini keong seperti itu di Indonesia hanya ditemukan di perairan Raja Ampat, Papua Barat," kata Khalbi Rasyid.
Sumber :
http://travel.kompas.com/read/2009/11/16/09421982/Festival.Teluk.Jilolo..Mengenal.Keindahan.Halmahera.Barat
16 November 2009
Obyek Wisata Sisa Perang Dunia II di Morotai
Objek wisata Pulau Morotai, Kabupaten Halmahera Utara (Halut), Maluku Utara (Malut) memiliki banyak peninggalan sejarah cukup menarik di antaranya sisa-sisa peninggalan Perang Dunia II.
Di Pulau Morotai banyak terdapat sisa Perang Dunia II, karena pernah menjadi pangkalan Sekutu pada Perang Dunia II, kata Kasubdin Pemasaran Dinas Budaya dan Pariwisata Malut syamsuddin Muhammad di Ternate, Sabtu.
Sisa-sisa Perang Dunia II yang ada di pulau tersebut di antaranya puing-puing pesawat tempur, bangkai kapal perang, rongsokan tank dan bunker tempat persembunyian tentara Sekutu.
Menurut dia, di objek wisata Pulau Morotai juga bisa menyaksikan peninggalan Perang Dunia II berupa lapangan terbang dengan tujuh landasan, yang saat ini dimanfaatkan oleh TNI Angkatan Udara.
Di objek wisata tersebut terdapat gua yang ada kaitannya dengan Perang Dunia II, yakni gua Nakamura, tempat persembunnyian sejumlah tentara Jepang setelah mereka takluk dari Sekutu.
Salah seorang tentara Jepang yang bersembunyi di gua tersebut bernama Nakamura. Ia bersembunyi di tempat itu selama 30 tahun yakni dari 1945 sampai 1975, kata Suamsuddin.
Objek wisata Pulau Morotai juga memiliki panorama pantai pasir putih yang indah, begitu pula perairan laut di sekitarnya memiliki panorama bawah laut berupa terumbu karang dan berbagai jenis ikan yang menarik.
Di sekitar Pulau Morotai juga banyak terdapat pulau kecil, seperti Pulau Dodolayang keindahannya tidak kalah jika dibanding dengan pulau-pulau wisata yang ada di Kepulauan Seribu.
Untuk mencapai Pulau Morotai dapat melalui tiga jalur, menggunakan kapal laut dari Ternate ke Morotai selama 12 jam, yang jadwalnya dua kali seminggu dengan tarif Rp50.000. Alternatif kedua dari Ternate ke Sofifi menggunakan speed boat selama 30 menit dengan tarif Rp25.000, dengan jalan darat (mobil) ke Tobelo selama empat jam dengan ongkos sewa Rp75.000. Jalur tersebut dapat dilewati setiap hari, katanya.
Sedangkan jalur ketiga, menggunakan penerbangan perintis dari Bandara Babullah Ternate ke Galela kemudian Morotai selama 30 menit dengan harga tiket Rp250.000, namun jadwalnya hanya sekali dalam seminggu. [Ant/R1]
Sumber :
http://www.inilah.com/news/politik/2008/01/26/9180/obyek-wisata-sisa-perang-dunia-ii-di-morotai/
26 Januari 2008
Di Pulau Morotai banyak terdapat sisa Perang Dunia II, karena pernah menjadi pangkalan Sekutu pada Perang Dunia II, kata Kasubdin Pemasaran Dinas Budaya dan Pariwisata Malut syamsuddin Muhammad di Ternate, Sabtu.
Sisa-sisa Perang Dunia II yang ada di pulau tersebut di antaranya puing-puing pesawat tempur, bangkai kapal perang, rongsokan tank dan bunker tempat persembunyian tentara Sekutu.
Menurut dia, di objek wisata Pulau Morotai juga bisa menyaksikan peninggalan Perang Dunia II berupa lapangan terbang dengan tujuh landasan, yang saat ini dimanfaatkan oleh TNI Angkatan Udara.
Di objek wisata tersebut terdapat gua yang ada kaitannya dengan Perang Dunia II, yakni gua Nakamura, tempat persembunnyian sejumlah tentara Jepang setelah mereka takluk dari Sekutu.
Salah seorang tentara Jepang yang bersembunyi di gua tersebut bernama Nakamura. Ia bersembunyi di tempat itu selama 30 tahun yakni dari 1945 sampai 1975, kata Suamsuddin.
Objek wisata Pulau Morotai juga memiliki panorama pantai pasir putih yang indah, begitu pula perairan laut di sekitarnya memiliki panorama bawah laut berupa terumbu karang dan berbagai jenis ikan yang menarik.
Di sekitar Pulau Morotai juga banyak terdapat pulau kecil, seperti Pulau Dodolayang keindahannya tidak kalah jika dibanding dengan pulau-pulau wisata yang ada di Kepulauan Seribu.
Untuk mencapai Pulau Morotai dapat melalui tiga jalur, menggunakan kapal laut dari Ternate ke Morotai selama 12 jam, yang jadwalnya dua kali seminggu dengan tarif Rp50.000. Alternatif kedua dari Ternate ke Sofifi menggunakan speed boat selama 30 menit dengan tarif Rp25.000, dengan jalan darat (mobil) ke Tobelo selama empat jam dengan ongkos sewa Rp75.000. Jalur tersebut dapat dilewati setiap hari, katanya.
Sedangkan jalur ketiga, menggunakan penerbangan perintis dari Bandara Babullah Ternate ke Galela kemudian Morotai selama 30 menit dengan harga tiket Rp250.000, namun jadwalnya hanya sekali dalam seminggu. [Ant/R1]
Sumber :
http://www.inilah.com/news/politik/2008/01/26/9180/obyek-wisata-sisa-perang-dunia-ii-di-morotai/
26 Januari 2008
Pengusaha Jepang Berminat Tanam Investasi di Morotai
Sejumlah pengusaha Jepang yang tergabung dalam Japindo (Japan-Indonesia), organisasi pengusaha Jepang-Indonesia, berminat menanamkan investasi di pulau Morotai, Kabupaten Halmahera Utara (Halut), Maluku Utara (Malut).
"Akhir Oktober lalu, saya membawa tim kesenian Malut ke Tokyo. Di sana saya sempat melakukan pertemuan dengan pengusaha Jepang yang tergabung dalam Japindo. Dalam pertemuan itu, mereka menyatakan berminat menanamkan modal di pulau Morotai," kata Sekretaris Daerah Provinsi Malut, Muhadjir Albar di Ternate, Senin (13/11).
Ada dua alasan yang mendorong mereka ingin menamakan modal di pulau Morotai yakni pertama, pulau Morotai memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah, terutama di sektor perikanan dan pariwisata. Kedua, pulau itu memiliki nilai sejarah bagi Jepang.
Menurut Muhajir, pulau Morotai memiliki nilai sejarah bagi Jepang, karena menjadi salah satu basis pertahanan Jepang saat melawan tentara sekutu pada Perang Dunia II. Ribuan tentara Jepang tewas di pulau Morotai saat mereka mempertahankan pulau itu dari gempuran tentara sekutu.
Di pulau Morotai masih banyak terdapat sisa-sisa peninggalan Perang Dunia II, seperti puing-puing senjata dan bangkai pesawat tempur, baik milik Jepang maupun tentara sekutu. Para pengusaha Jepang ingin memanfaatkan peninggalan Perang Dunia II di pulau Morotai itu, untuk kepentingan pariwisata.
"Mereka menilai, pulau itu sangat potensial dijual kepada wisatawan, terutama untuk wisatawan dari Jepang dan negara-negara lainnya di kawasan Asia Pasifik, karena selain memiliki obyek wisata yang menarik, juga letaknya berhadapan langsung dengan kawasan Asia Pasifik," katanya.
Apalagi, di pulau Morotai sudah ada infrastruktur dasar yakni lapangan terbang bekas peninggalan tentara sekutu. Lapangan terbang di pulau itu memiliki tujuh landasan dengan panjang landasan lebih dari 2.000 meter, sehingga memungkinkan didarati pesawat berbadan lebar.
Muhadjir menambahkan, untuk merealisasikan investasi di pulau Morotai, para pengusaha Jepang yang tergabung dalam Japindo itu, akan berkunjung ke pulau Morotai pada awal tahun 2007. Pemprov Malut sudah menjanjikan berbagai kemudahan investasi kepada para pengusaha Jepang itu. (*/lpk)
Sumber :
http://www.kapanlagi.com/h/0000143368.html
13 November 2006
"Akhir Oktober lalu, saya membawa tim kesenian Malut ke Tokyo. Di sana saya sempat melakukan pertemuan dengan pengusaha Jepang yang tergabung dalam Japindo. Dalam pertemuan itu, mereka menyatakan berminat menanamkan modal di pulau Morotai," kata Sekretaris Daerah Provinsi Malut, Muhadjir Albar di Ternate, Senin (13/11).
Ada dua alasan yang mendorong mereka ingin menamakan modal di pulau Morotai yakni pertama, pulau Morotai memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah, terutama di sektor perikanan dan pariwisata. Kedua, pulau itu memiliki nilai sejarah bagi Jepang.
Menurut Muhajir, pulau Morotai memiliki nilai sejarah bagi Jepang, karena menjadi salah satu basis pertahanan Jepang saat melawan tentara sekutu pada Perang Dunia II. Ribuan tentara Jepang tewas di pulau Morotai saat mereka mempertahankan pulau itu dari gempuran tentara sekutu.
Di pulau Morotai masih banyak terdapat sisa-sisa peninggalan Perang Dunia II, seperti puing-puing senjata dan bangkai pesawat tempur, baik milik Jepang maupun tentara sekutu. Para pengusaha Jepang ingin memanfaatkan peninggalan Perang Dunia II di pulau Morotai itu, untuk kepentingan pariwisata.
"Mereka menilai, pulau itu sangat potensial dijual kepada wisatawan, terutama untuk wisatawan dari Jepang dan negara-negara lainnya di kawasan Asia Pasifik, karena selain memiliki obyek wisata yang menarik, juga letaknya berhadapan langsung dengan kawasan Asia Pasifik," katanya.
Apalagi, di pulau Morotai sudah ada infrastruktur dasar yakni lapangan terbang bekas peninggalan tentara sekutu. Lapangan terbang di pulau itu memiliki tujuh landasan dengan panjang landasan lebih dari 2.000 meter, sehingga memungkinkan didarati pesawat berbadan lebar.
Muhadjir menambahkan, untuk merealisasikan investasi di pulau Morotai, para pengusaha Jepang yang tergabung dalam Japindo itu, akan berkunjung ke pulau Morotai pada awal tahun 2007. Pemprov Malut sudah menjanjikan berbagai kemudahan investasi kepada para pengusaha Jepang itu. (*/lpk)
Sumber :
http://www.kapanlagi.com/h/0000143368.html
13 November 2006
Langganan:
Postingan (Atom)