Pulau Morotai terletak di ujung utara Kabupaten Halmahera Utara dan merupakan bagian dari Provinsi Maluku Utara. Secara geografis Pulau Morotai terletak di antara 200-240 derajat Lintang Utara dan 12.815-12848 derajat Bujur Timur. Pulau Morotai berbatasan dengan Samudera Pasifik di sebelah Utara, Laut Halmahera di sebelah Timur, Selat Morotai di sebelah Selatan dan Laut Sulawesi di sebelah Barat.
Luas wilayah Pulau Morotai adalah 2.474,94 kilometer persegi atau 10 persen dari luas wilayah daratan Kabupaten Maluku Utara. Secara administratif, Pulau Morotai sejak tahun 2002 termasuk ke dalam administrasi pemerintahan Kabupaten Halmahera Utara dengan ibukota kabupaten di Tobelo. Pulau Morotai sendiri terbagi dalam 3 (tiga) kecamatan yaitu: (1) Morotai Utara dengan ibukota Berebere; (2) Morotai Selatan Barat dengan ibukota Wayabula; dan (3) Morotai Selatan dengan ibukota Daruba.
Tekstur tanah di Pulau Morotai pada umumnya halus dan daerah dengan tekstur sedang berada di sebelah Timur. Sebagian besar luas Kota Daruba merupakan lahan pertanian atau perkebunan rakyat berupa kebun kelapa dan kebun campuran. Sedangkan penggunaan lahan untuk fisik (permukiman, perkantoran dan fasilitas ekonomi) hanya seluas 79,64 hektar atau 3,92 persen dari luas wilayah kota. Penggunaan lahan lainnya adalah lapangan terbang seluas 15 hektar, empang, kawasan hutan lindung dan sebagainya. Seperti umumnya kota-kota yang terletak di pesisir pantai, maka pola penggunaan lahan di Kota Daruba cenderung linier mengikuti pola garis pantai. Pada bagian pesisir terutama didominasi oleh bangunan fisik. Sedangkan kegiatan pertanian cenderung ke arah perbukitan di sebelah timur dan utara kota.
Jumlah penduduk Pulau Morotai secara keseluruhan sebanyak 58.720 jiwa yang tersebar pada 47 desa. Mata pencaharian penduduk sebagian besar sebagai petani dan nelayan (lebih dari 60 persen), sedangkan mata pencaharian lainnya adalah pedagang, Pegawai Negeri Sipil dan TNI/Polri.
Jenis produksi tanaman pangan di Pulau Morotai antara lain padi sawah, padi ladang, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kacang hijau, kacang kedelai, buah-buahan dan sayuran. Untuk menuju ke Pulau Morotai hanya dapat ditempuh dengan sarana transportasi laut ke Kota Daruba. Perjalanan ke Morotai ditempuh dengan menggunakan kendaraan speedboat dari Ternate ke Sidangoli dengan waktu tempuh 1 jam. Selanjutnya dengan kendaraan darat sampai ke Tobelo dengan waktu tempuh 3 jam dan dari Tobelo dengan speedboat ke Morotai dengan waktu tempuh 1,5 jam.
Prasarana dan sarana transportasi darat menuju ke desa-desa maupun antarkecamatan sudah ada dan dalam kondisi baik. Terminal penumpang umum terdapat di Kota Daruba dengan sejumlah armada angkutan darat yang melayani penumpang. Namun demikian, akibat terjadinya konflik sosial pada tahun 2000 yang lalu, aktivitas terminal dan armada angkutan darat untuk sementara sampai saat ini tidak berjalan. Sebagian jalan dan jembatan juga rusak akibat kerusuhan.
Prasarana transportasi laut dengan kategori pelabuhan yang tidak diusahakan terdapat di Kota Daruba, ibukota Kecamatan Morotai Selatan. Volume bongkar muat barang pelayaran dalam negeri untuk perdagangan antarpulau di Pelabuhan Daruba tahun 2002 yang dibongkar 6.525 ton dan yang dimuat 33.718 ton.
Meskipun Pulau Morotai memiliki lapangan terbang bekas peninggalan Perang Dunia II yang memiliki 7 jalur landasan pacu dengan panjang masing-masing 3 km, namun jalur transportasi udara khususnya angkutan penumpang umum sampai saat ini belum dapat beroperasi secara rutin. Ini disebabkan belum adanya penerbangan umum yang secara permanen melayani jalur penerbangan ke dan dari Pulau Morotai. Lapangan terbang yang ada saat ini dikelola sebagai pangkalan udara oleh TNI AU dan beberapa kali didarati pesawat terbang umum dari dan ke Ternate yang lebih banyak digunakan untuk sarana angkutan perniagaan. Semoga di masa mendatang, Pulau Morotai kian menjadi dambaan bagi seluruh wisatawan untuk berlibur di sana. (*)
Sumber teks & foto:
www.halmaherautara.com dalam :
http://www.explore-indo.com/industri-pariwisata/285-lets-go-berpetualang-menuju-pulau-morotai.html
24 Juni 2009
Minggu, 24 Januari 2010
Ternate Wisata Benteng Kota Tua
Kendaraan bermotor mulai ramai melintas jalan-jalan Kota Ternate seiring munculnya matahari yang seolah keluar dari dasar lautan. Fenomena ini bisa kita saksikan dari hotel termewah yang ada di kota itu. Letaknya didataran tinggi menghadap ke laut berhias Gunung Maitara dan Pulau Tidore, membuat decak kagum kepada siapapun yang datang dan menginap.
Begitu banyak potensi yang terkandung pada provinsi yang baru terbentuk tahun 1999, dan Ternate menjadi Ibukotanya. Kota Ternate merupakan salah satu kota tertua di Indonesia. Namanya tercatat dalam Kitab Negarakertagama yang di tulis Mpu Tantular. Sampai saat ini Ternate masih menyimpan cerita sejarah dan budaya yang menjadi bukti kejayaan masa lalu.
Bukti-bukti kejayaan itu kini menjadi objek wisata sejarah yang mengundang rasa penasaran. Diantaranya ada Kedaton Sultan Ternate, dibangun oleh Sultan Muhammad Ali pada 24 Nopember 1810, lokasinya di atas bukit Limau Santosa dan di dalamnya menyimpan benda-benda yang bernilai sejarah cukup tinggi. Dan Masjid Sultan Ternate, di bangun oleh Sultan Hamzah pada tahun 1633 dengan kombinasi arsitektur Cina dan Jawa kuno.
Sejak dahulu kala Ternate dikenal karena potensi dan posisi geografis yang sangat strategis. Berawal ketika Antonio d’Abreau dan Faransisco Serrao, Kapten kapal dan rombongan Ferdinand Magelland, menyinggahi Bandar Ternate. Sejak itulah tersiar berita keelokan Ternate yang kaya rempah diantara bangsa-bangsa Eropa.
Bahkan sebelumnya pernah menjadi unggulan dalam kanca globalisasi tradisional di jaman keemasan Jalur Sutra di Cina, dengan membangun hubungan perdagangan internasional karena hasil buminya yang sangat terkenal yaitu Pala dan Cengkih (Cengkih Afo adalah bukti Cengkih Tertua di dunia terdapat di Ternate).
Karena potensinya ini Ternate menjadi tujuan utama bangsa-bangsa Eropa untuk menguasai, sehingga banyak peninggalan bangsa Eropa di Ternate yang kini menjadi destinasi yang wajib dikunjungi.
Misalnya Benteng Kalamata (Benteng Santa Lucia) yang dibangun bangsa Portugis tahun 1540 dan dianeksasi Belanda tahun 1609. Benteng ini langsung menghadap ke laut, berada di tepi pantai sehingga kerap di manfaatkan warga setempat untuk santai menikmati keindahan laut biru.
Benteng ini juga memiliki nama lain Kayu Merah, terakhir kali dipugar oleh pemerintah tahun 1994. Sebagai objek wisata, Benteng ini telah dilengkapi dengan fasilitas penunjang. Naiklah ke atas Benteng untuk dapat menikmati pemandangan indah di seberang lautan, kita dapat saksikan keindahan pulau Tidore dan Maitara dari atas Benteng ini.
Ada juga Benteng Tolukko (Toloco) peninggalan Portugis, dibangun pada tahun 1512 oleh Gubernur Jendral Francisco Seereo dan direstorasi pada tahun 1610 oleh Jan Peter Booth. Tujuan didirikannya benteng ini untuk mengawasi kediaman para pemimpin yang berada di sekitar benteng, dan tentunya sebagai pertahanan terhadap serangan musuh.
Benteng yang mempunyai nama lain Holandia ini memiliki tempat pertahanan, tempat istirahat, tempat meriam, dan ruang bawah tanah. Konon dahulu terdapat terowongan bawah tanah, tai sekarang sudah ditutup.
Banyak benteng lainnya yang tersebar di Kota Ternate, maka kota ini pun pernah mendapat julukan sebagai kota benteng. Selain di kota Ternate sendiri, penyebaran benteng yang dibangun para penjajah dahulu juga merambah ke pulau-pulau lainnya. Hampir setiap pulau di Maluku Utara mempunyai sedikitnya satu benteng peninggalan masa lalu.
Benteng Lainnya yang wajib kunjung :
• Benteng Kastela (Kota Ternate)
• Banteng Santo Predo (Ternate)
• Benteng Tahuela (Kota Tidore Kepulauan)
• Benteng Tjobee (Kota Tidore Kepulauan)
• Benteng Peninggalan PD II (Kabupaten Halmahera Timur)
• Benteng Portugis (Kabupaten Halmaera Timur)
• Benteng Bernaveld (Kabupaten Halmahera Selatan)
• Benteng Mauritz (Kabupaten halmahera Selatan)
• Benteng Dervarwaching (Kabupaten Kepulauan Sula)
Sumber :
http://erawisata.com/destinasi/sejarah/ternate-wisata-benteng-kota-tua.html
30 Desember 2009
Begitu banyak potensi yang terkandung pada provinsi yang baru terbentuk tahun 1999, dan Ternate menjadi Ibukotanya. Kota Ternate merupakan salah satu kota tertua di Indonesia. Namanya tercatat dalam Kitab Negarakertagama yang di tulis Mpu Tantular. Sampai saat ini Ternate masih menyimpan cerita sejarah dan budaya yang menjadi bukti kejayaan masa lalu.
Bukti-bukti kejayaan itu kini menjadi objek wisata sejarah yang mengundang rasa penasaran. Diantaranya ada Kedaton Sultan Ternate, dibangun oleh Sultan Muhammad Ali pada 24 Nopember 1810, lokasinya di atas bukit Limau Santosa dan di dalamnya menyimpan benda-benda yang bernilai sejarah cukup tinggi. Dan Masjid Sultan Ternate, di bangun oleh Sultan Hamzah pada tahun 1633 dengan kombinasi arsitektur Cina dan Jawa kuno.
Sejak dahulu kala Ternate dikenal karena potensi dan posisi geografis yang sangat strategis. Berawal ketika Antonio d’Abreau dan Faransisco Serrao, Kapten kapal dan rombongan Ferdinand Magelland, menyinggahi Bandar Ternate. Sejak itulah tersiar berita keelokan Ternate yang kaya rempah diantara bangsa-bangsa Eropa.
Bahkan sebelumnya pernah menjadi unggulan dalam kanca globalisasi tradisional di jaman keemasan Jalur Sutra di Cina, dengan membangun hubungan perdagangan internasional karena hasil buminya yang sangat terkenal yaitu Pala dan Cengkih (Cengkih Afo adalah bukti Cengkih Tertua di dunia terdapat di Ternate).
Karena potensinya ini Ternate menjadi tujuan utama bangsa-bangsa Eropa untuk menguasai, sehingga banyak peninggalan bangsa Eropa di Ternate yang kini menjadi destinasi yang wajib dikunjungi.
Misalnya Benteng Kalamata (Benteng Santa Lucia) yang dibangun bangsa Portugis tahun 1540 dan dianeksasi Belanda tahun 1609. Benteng ini langsung menghadap ke laut, berada di tepi pantai sehingga kerap di manfaatkan warga setempat untuk santai menikmati keindahan laut biru.
Benteng ini juga memiliki nama lain Kayu Merah, terakhir kali dipugar oleh pemerintah tahun 1994. Sebagai objek wisata, Benteng ini telah dilengkapi dengan fasilitas penunjang. Naiklah ke atas Benteng untuk dapat menikmati pemandangan indah di seberang lautan, kita dapat saksikan keindahan pulau Tidore dan Maitara dari atas Benteng ini.
Ada juga Benteng Tolukko (Toloco) peninggalan Portugis, dibangun pada tahun 1512 oleh Gubernur Jendral Francisco Seereo dan direstorasi pada tahun 1610 oleh Jan Peter Booth. Tujuan didirikannya benteng ini untuk mengawasi kediaman para pemimpin yang berada di sekitar benteng, dan tentunya sebagai pertahanan terhadap serangan musuh.
Benteng yang mempunyai nama lain Holandia ini memiliki tempat pertahanan, tempat istirahat, tempat meriam, dan ruang bawah tanah. Konon dahulu terdapat terowongan bawah tanah, tai sekarang sudah ditutup.
Banyak benteng lainnya yang tersebar di Kota Ternate, maka kota ini pun pernah mendapat julukan sebagai kota benteng. Selain di kota Ternate sendiri, penyebaran benteng yang dibangun para penjajah dahulu juga merambah ke pulau-pulau lainnya. Hampir setiap pulau di Maluku Utara mempunyai sedikitnya satu benteng peninggalan masa lalu.
Benteng Lainnya yang wajib kunjung :
• Benteng Kastela (Kota Ternate)
• Banteng Santo Predo (Ternate)
• Benteng Tahuela (Kota Tidore Kepulauan)
• Benteng Tjobee (Kota Tidore Kepulauan)
• Benteng Peninggalan PD II (Kabupaten Halmahera Timur)
• Benteng Portugis (Kabupaten Halmaera Timur)
• Benteng Bernaveld (Kabupaten Halmahera Selatan)
• Benteng Mauritz (Kabupaten halmahera Selatan)
• Benteng Dervarwaching (Kabupaten Kepulauan Sula)
Sumber :
http://erawisata.com/destinasi/sejarah/ternate-wisata-benteng-kota-tua.html
30 Desember 2009
Banyak “Harta Karun” di Ternate
Jangan pernah berharap menemukan gedung-gedung atau bangunan mewah di Kota Ternate, Maluku Utara. Sesuai dengan falsafah Sultan Ternate Mudaffar Sjah, yakni rakyat Ternate tidak perlu kaya asalkan bisa hidup berkecukupan. Walhasil, sejak dulu hingga sekarang tidak banyak perubahan yang terjadi di Kota Ternate.
Kota seluas 547,736 kilometer persegi ini memang tidak menyuguhkan suasana glamor pada malam hari. Meskipun termasuk kota tujuan wisatawan asing dan lokal, Ternate tetap mempertahankan kesederhanaan dan ciri khas budayanya. Satu-satunya kemeriahan yang bisa dinikmati hadir pada perayaan ulang tahun Sultan Ternate. Pada perayaan istimewa itu, Sultan menggelar Legu Gam (pesta rakyat) selama berhari-hari di lapangan Keraton Kesultanan Ternate.
Lokasi pesta perayaan ulang tahun, memang sengaja dipilih dekat dengan kediaman Sultan Ternate. Harapannya, Sultan Mudaffar Sjah dan Permaisuri Boki Nita Budhi Susanti bisa melihat kemeriahan pesta dari balkon keraton. Pada malam hari, Legu Gam di lapangan Keraton Kesultanan, tidak ada bedanya dengan pemandangan pasar malam yang ada di Jakarta.
Untungnya, kunjungan SP bersama dengan rombongan Staf Ahli Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Surya Yoga ke Ternate pada 18 April 2009 lalu, bertepatan dengan perayaan Legu Gam. Selama lima hari di Ternate, lapangan Keraton Kesultanan tidak pernah sepi. Masyarakat kerap datang untuk menikmati hiburan yang ada di perayaan Legu Gam.
Selain perayaan tahunan Legu Gam, Ternate juga menyimpan banyak “harta karun”. Keindahan alam serta bangunan-bangunan bersejarah adalah harta karun kota Ternate. Satu di antaranya, yakni Keraton Kesultanan Ternate. Bangunan bergaya Eropa abad ke-19 ini didirikan oleh Sultan Mohammad Ali, pada tahun 1823. Kini, Keraton Kesultanan berubah dwifungsi. Tidak hanya sebagai tempat kediaman Sultan Ternate, keraton juga menjadi museum untuk menyimpan benda-benda bersejarah.
Keraton Kesultanan Ternate berdiri di atas tanah seluas 44.560 meter persegi. Bangunan bersejarah ini berjarak 250 meter dari garis Pantai Resen atau tepatnya berada di dataran pantai Kampung Soa-Sio, Kelurahan Letter C, Kodya Ternate, Kabupaten Maluku Utara.
Keraton Kesultanan, kini menjadi bangunan bersejarah yang dilindungi pemerintah. Usaha pelestarian pemerintah dilakukan lewat pemugaran keraton pada tahun 1981-1982. Tepatnya pada 29 April 1982, Keraton Kesultanan Ternate selesai direnovasi, dan diresmikan oleh Mendikbud Dr Daud Jusuf.
Mahkota Berambut
Dalam bangunan megah berwarna kuning ini tersimpan benda-benda bersejarah. Satu di antaranya adalah Mahkota Berambut Kesultanan Ternate. Dipercaya, rambut yang melekat pada bagian atas mahkota tumbuh setiap tahun. Berdasarkan kepercayaan adat Kesultanan Ternate, setiap malam Idul Adha dilakukan upacara potong rambut. Upacara adat dilaksanakan selama tujuh hari.
Mahkota Berambut Kesultanan Ternate disimpan di kamar Puji yang disakralkan oleh penghuni keraton. Tidak sembarang orang bisa masuk ke kamar tersebut. Bahkan, Sultan dan sang Permaisuri hanya sesekali salat di kamar tersebut. Biasanya, saat Sultan dan Permaisuri memiliki permohonan khusus baru bisa melaksanakan salat di kamar Puji.
Selain bernilai sakral, Mahkota Berambut juga biasa digunakan untuk memilih calon Sultan Ternate. Berdasarkan cerita para tetua Ternate, setiap anak lelaki keturunan Sultan Ternate harus mencoba Mahkota Berambut. Mahkota tersebut bisa melekat pas di atas kepala calon Sultan Ternate.
Tidak hanya Mahkota Berambut, di keraton juga tersimpan senjata, baju perang, dan simbol-simbol penjaga kesultanan. Pada kunjungan SP ke keraton, Permaisuri Nita menjelaskan, ada lima binatang penjaga kesultanan. Empat binatang tersebut yakni ular, naga, macan, lipan, dan burung.
Satu dari lima binatang penjaga tersebut dipilih sebagai simbol kesultanan, yakni burung garuda. Lambang burung garuda berkepala dua berarti kerajaan Moloku Kie Raha terbentuk pada 1322. Sementara simbol burung hati terbalik mengandung makna, Sultan Ternate harus selalu mengutamakan kepentingan rakyat daripada kepentingan pribadinya.
Pantai Sulamadaha
Seusai berkunjung ke tempat bersejarah Kesultanan Ternate, pemandangan alam menjadi pilihan yang tepat untuk menghabiskan liburan. Kota Ternate, yang terletak di kaki Gunung Api Gamalama menyimpan banyak keindahan. Hanya dibutuhkan waktu setengah hari untuk mengelilingi Kota Ternate. Dalam waktu singkat tersebut beberapa tempat wisata bisa dikunjungi.
Pantai Sulamadaha menjadi objek wisata yang diincar warga pada hari libur. Dari pusat Kota Ternate ke pantai memakan waktu satu jam perjalanan. Pantai Sulamadaha juga masih menyajikan pemandangan dan suasana alam yang asli. Bahkan, makanan yang dijajakan di pantai sangat tradisional. Penjual membangun tenda-tenda kecil di pinggir pantai untuk menjual kelapa muda dan makanan kecil.
Pantai Sulamadaha tidak seperti pantai-pantai terkenal di Bali. Meskipun tidak berpasir putih, Pantai Sulamadaha memiliki pesona tersendiri. Pantai berpasir hitam ini berhadapan langsung dengan Pulau Hiri.
Ombak di Pantai Sulamadaha tidak terlalu besar. Jadi, bisa dibilang aman untuk mengajak anak-anak berenang di pantai. Selain ombaknya bersahabat, pantai ini juga lumayan bersih. Tidak seperti pantai di Jakarta kurang terawat. Pada bagian kanan dan kiri pantai, terdapat tebing karang kecil yang ditumbuhi semak belukar dan pepohonan besar.
Pengunjung tidak hanya bisa berenang di pantai, tetapi juga dapat menikmati pemandangan bukit hijau Pulau Hiri. Bila tidak puas hanya memandang, pengunjung bisa menyeberang ke Pulau Hiri dengan menyewa perahu nelayan. Harga sewanya, bisa negosiasi dengan nelayan setempat.
Berdasarkan cerita rakyat, Pulau Hiri dulunya dipakai sebagai tempat pengasingan Sultan Muhammad Djabir Syah. Pulau tersebut dulunya tidak terdeteksi oleh para tentara Belanda. Jadi, Sultan Muhammad Djabir yang merupakan ayah dari Sultan Ternate Mudaffar Sjah selamat dari kejaran Belanda.
Danau Tolire
Bergeser sedikit dari Pantai Sulamadaha, tempat wisata yang juga menjadi pilihan di hari libur, yakni Danau Tolire. Danau Tolire yang berada di bawah kaki Gunung Gamalama ini menyimpan sebuah kisah sedih. Menurut legenda, Danau Tolire terbagi menjadi dua bagian, yakni Tolire besar dan Tolire kecil. Pecahnya danau tersebut dikarenakan kekhilafan seorang ayah kepada anak gadisnya. Sang ayah memerkosa anak gadisnya.
Setelah tragedi memilukan tersebut, terjadi longsor dan danau meluap. Akibatnya, desa Takome tenggelam. Anehnya, setelah surut danau seolah terbagi menjadi dua bagian. Danau Tolire besar diperkirakan sebagai wujud dari sang ayah. Sementara itu, Danau Tolire kecil adalah wujud sang anak.
Jarak dari Danau Tolire besar dan Danau Tolire kecil hanya 200 meter. Danau Tolire kecil berada dekat tepi pantai. Airnya payau, karena jaraknya dekat dengan laut, yakni sekitar 50 meter. Bila mengunjungi Danau Tolire besar, otomatis harus melewati Danau Tolire kecil.
Sayangnya, keindahan Danau Tolire besar lebih menggiurkan ketimbang Danau Tolire kecil. Kebanyakan wisatawan dan warga memilih Danau Tolire besar sebagai tempat wisata. Danau Tolire besar menyerupai loyang raksasa, dengan luas sekitar lima hektar dan kedalaman 50 meter. Keunikan lainnya adalah air Danau Tolire besar berwana hijau saat musim panas dan coklat pada waktu hujan.
Untuk bisa menikmati pemandangan di sekitar Danau Tolire besar, pengunjung bisa masuk tanpa bayaran. Hanya saja, jarak dari jalan besar ke Danau Tolire lumayan jauh. Untung, ada jasa tukang ojek di depan pintu masuk Danau Tolire. Cukup membayar Rp 10.000, tukang ojek akan mengantar pulang pergi dari danau ke pintu masuk.
Selain menyimpan cerita memilukan, Danau Tolire besar juga memiliki kekuatan gaib. Masyarakat setempat percaya terdapat buaya siluman yang melindungi danau. Terlebih lagi, pada zaman dulu Danau Tolire besar merupakan tempat penyimpanan harta Sultan Ternate. Harta disembunyikan di dasar Danau Tolire besar, sehingga aman dari incaran Portugis pada abad ke-15.
Kekuatan gaib Danau Tolire besar bisa dibuktikan dengan cara melempar batu ke danau. Dipastikan, batu tidak akan pernah menyentuh permukaan air danau. Batu yang dilempar seperti hilang sebelum sampai ke permukaan danau. Pengunjung bisa membeli batu yang sengaja disediakan oleh warga. Satu batu harganya Rp 1.000.
Seusai menikmati keindahan danau dan mencoba lempar batu, pengunjung bisa beristirahat sejenak di bawah pepohonan besar. Istirahat di bawah pohon rindang akan bertambah nikmat bila ditemani jagung rebus manis dan teh hangat. Makanan dan minuman bisa dibeli di warung-warung kecil yang ada di sekitar Danau Tolire besar.
Pulau Tidore
Selain Danau Tolire Besar dan Kecil, masih banyak lagi tempat wisata di Maluku Utara yang layak dikunjungi. Bila bersedia meluangkan waktu lebih banyak, bisa mengunjungi Pulau Tidore yang ada di seberang Ternate. Untuk bisa sampai ke Pulau Tidore, dari pelabuhan Ternate bisa menggunakan speedboat kecil. Jarak tempuh dari pelabuhan Ternate ke Tidore hanya sekitar 10 menit saja. Sementara ongkos speedboat per orang sebesar Rp 8.000.
Sampai di pelabuhan Rum Tidore, wisatawan bisa menggunakan angkot biru untuk berkeliling pulau seluas 1.797 km2 ini. Pulau Tidore terbilang sepi dibandingkan Ternate. Pada pukul 18.00 waktu setempat, tidak ada lagi angkot yang beroperasi. Hanya kendaraan pribadi dan motor yang lalu-lalang.
Meskipun tergolong sepi, Pulau Tidore menyuguhkan tempat-tempat wisata yang tidak kalah indah dengan Ternate. Sebut saja wisata sejarah Tugu Pendaratan Sebastiano De Elaco. Tugu yang dibangun oleh pemerintah Spanyol ini menjadi satu-satunya bukti sejarah yang menyatakan bumi itu bulat. Dulu, saat terdampar di Pulau Tidore, Sebastian De Elaco berhasil membuktikan bahwa bumi itu bulat.
Tempat wisata lain di Tidore, yakni kolam air panas Akesahu. Kolam air panas ini berdekatan dengan pantai Akesahu. Dipercaya, dengan berendam di dalam kolam air panas berbagai penyakit bisa sembuh. Untuk bisa masuk ke kolam air panas Akesahu, pengunjung hanya perlu mengeluarkan uang masuk Rp 1.000 per orang.
Setelah berendam di kolam air panas, biasanya pengunjung diminta mengikatkan seutas tali di ranting pohon beringin besar. Tujuannya, agar penyakit tidak lagi ikut di badan. Penyakit akan tinggal di dalam tali yang terikat di pohon beringin besar.
Tidak hanya kolam air panas Akesahu, Pulau Tidore juga memiliki wisata taman laut Maetara, museum Kesultanan Tidore Sonyine Malige, Pantai Cobo, dan benteng Tahua. Pulau Tidore, untungnya tidak terlalu luas. Cukup dengan meluangkan waktu satu setengah jam, sudah bisa mengelilingi pulau menggunakan mobil. Kondisi jalan di Pulau Tidore pun sangat mulus. Berbeda jauh dengan kondisi jalan di Jakarta yang banyak lubang.
Oleh-oleh
Tidak hanya berburu tempat wisata, wisatawan pun harus menyempatkan waktu berbelanja oleh-oleh khas Maluku Utara di Pasar Gamalama, di jalan Bousorie. Perhiasan dari besi putih bisa menjadi pilihan oleh-oleh yang unik untuk dibawa pulang.
Perhiasan tersebut bervariasi bentuknya. Harganya juga cukup sebanding dengan kualitas besi putih yang anti karat. Asalkan pintar menawar, sebuah cincin besi putih bisa dibeli dengan harga Rp 20.000 sampai Rp 30.000.
Selain perhiasan, oleh-oleh khas lainnya, yakni kue kering kenari dan kacang kenari. Khusus untuk makanan di Ternate memang tergolong mahal.
Alasannya, bahan baku makanan masih diambil langsung dari Manado. Untuk itu, sebelum memesan makanan, ada baiknya bertanya berapa harga seporsi kepada penjual. [Elvira Anna Siahaan]
Sumber:
http://epaper.suarapembaruan.com/default.aspx?iid=24908&startpage=page0000017, dalam :
http://www.potlot-adventure.com/2009/05/03/banyak-harta-karun-di-ternate/
Kota seluas 547,736 kilometer persegi ini memang tidak menyuguhkan suasana glamor pada malam hari. Meskipun termasuk kota tujuan wisatawan asing dan lokal, Ternate tetap mempertahankan kesederhanaan dan ciri khas budayanya. Satu-satunya kemeriahan yang bisa dinikmati hadir pada perayaan ulang tahun Sultan Ternate. Pada perayaan istimewa itu, Sultan menggelar Legu Gam (pesta rakyat) selama berhari-hari di lapangan Keraton Kesultanan Ternate.
Lokasi pesta perayaan ulang tahun, memang sengaja dipilih dekat dengan kediaman Sultan Ternate. Harapannya, Sultan Mudaffar Sjah dan Permaisuri Boki Nita Budhi Susanti bisa melihat kemeriahan pesta dari balkon keraton. Pada malam hari, Legu Gam di lapangan Keraton Kesultanan, tidak ada bedanya dengan pemandangan pasar malam yang ada di Jakarta.
Untungnya, kunjungan SP bersama dengan rombongan Staf Ahli Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Surya Yoga ke Ternate pada 18 April 2009 lalu, bertepatan dengan perayaan Legu Gam. Selama lima hari di Ternate, lapangan Keraton Kesultanan tidak pernah sepi. Masyarakat kerap datang untuk menikmati hiburan yang ada di perayaan Legu Gam.
Selain perayaan tahunan Legu Gam, Ternate juga menyimpan banyak “harta karun”. Keindahan alam serta bangunan-bangunan bersejarah adalah harta karun kota Ternate. Satu di antaranya, yakni Keraton Kesultanan Ternate. Bangunan bergaya Eropa abad ke-19 ini didirikan oleh Sultan Mohammad Ali, pada tahun 1823. Kini, Keraton Kesultanan berubah dwifungsi. Tidak hanya sebagai tempat kediaman Sultan Ternate, keraton juga menjadi museum untuk menyimpan benda-benda bersejarah.
Keraton Kesultanan Ternate berdiri di atas tanah seluas 44.560 meter persegi. Bangunan bersejarah ini berjarak 250 meter dari garis Pantai Resen atau tepatnya berada di dataran pantai Kampung Soa-Sio, Kelurahan Letter C, Kodya Ternate, Kabupaten Maluku Utara.
Keraton Kesultanan, kini menjadi bangunan bersejarah yang dilindungi pemerintah. Usaha pelestarian pemerintah dilakukan lewat pemugaran keraton pada tahun 1981-1982. Tepatnya pada 29 April 1982, Keraton Kesultanan Ternate selesai direnovasi, dan diresmikan oleh Mendikbud Dr Daud Jusuf.
Mahkota Berambut
Dalam bangunan megah berwarna kuning ini tersimpan benda-benda bersejarah. Satu di antaranya adalah Mahkota Berambut Kesultanan Ternate. Dipercaya, rambut yang melekat pada bagian atas mahkota tumbuh setiap tahun. Berdasarkan kepercayaan adat Kesultanan Ternate, setiap malam Idul Adha dilakukan upacara potong rambut. Upacara adat dilaksanakan selama tujuh hari.
Mahkota Berambut Kesultanan Ternate disimpan di kamar Puji yang disakralkan oleh penghuni keraton. Tidak sembarang orang bisa masuk ke kamar tersebut. Bahkan, Sultan dan sang Permaisuri hanya sesekali salat di kamar tersebut. Biasanya, saat Sultan dan Permaisuri memiliki permohonan khusus baru bisa melaksanakan salat di kamar Puji.
Selain bernilai sakral, Mahkota Berambut juga biasa digunakan untuk memilih calon Sultan Ternate. Berdasarkan cerita para tetua Ternate, setiap anak lelaki keturunan Sultan Ternate harus mencoba Mahkota Berambut. Mahkota tersebut bisa melekat pas di atas kepala calon Sultan Ternate.
Tidak hanya Mahkota Berambut, di keraton juga tersimpan senjata, baju perang, dan simbol-simbol penjaga kesultanan. Pada kunjungan SP ke keraton, Permaisuri Nita menjelaskan, ada lima binatang penjaga kesultanan. Empat binatang tersebut yakni ular, naga, macan, lipan, dan burung.
Satu dari lima binatang penjaga tersebut dipilih sebagai simbol kesultanan, yakni burung garuda. Lambang burung garuda berkepala dua berarti kerajaan Moloku Kie Raha terbentuk pada 1322. Sementara simbol burung hati terbalik mengandung makna, Sultan Ternate harus selalu mengutamakan kepentingan rakyat daripada kepentingan pribadinya.
Pantai Sulamadaha
Seusai berkunjung ke tempat bersejarah Kesultanan Ternate, pemandangan alam menjadi pilihan yang tepat untuk menghabiskan liburan. Kota Ternate, yang terletak di kaki Gunung Api Gamalama menyimpan banyak keindahan. Hanya dibutuhkan waktu setengah hari untuk mengelilingi Kota Ternate. Dalam waktu singkat tersebut beberapa tempat wisata bisa dikunjungi.
Pantai Sulamadaha menjadi objek wisata yang diincar warga pada hari libur. Dari pusat Kota Ternate ke pantai memakan waktu satu jam perjalanan. Pantai Sulamadaha juga masih menyajikan pemandangan dan suasana alam yang asli. Bahkan, makanan yang dijajakan di pantai sangat tradisional. Penjual membangun tenda-tenda kecil di pinggir pantai untuk menjual kelapa muda dan makanan kecil.
Pantai Sulamadaha tidak seperti pantai-pantai terkenal di Bali. Meskipun tidak berpasir putih, Pantai Sulamadaha memiliki pesona tersendiri. Pantai berpasir hitam ini berhadapan langsung dengan Pulau Hiri.
Ombak di Pantai Sulamadaha tidak terlalu besar. Jadi, bisa dibilang aman untuk mengajak anak-anak berenang di pantai. Selain ombaknya bersahabat, pantai ini juga lumayan bersih. Tidak seperti pantai di Jakarta kurang terawat. Pada bagian kanan dan kiri pantai, terdapat tebing karang kecil yang ditumbuhi semak belukar dan pepohonan besar.
Pengunjung tidak hanya bisa berenang di pantai, tetapi juga dapat menikmati pemandangan bukit hijau Pulau Hiri. Bila tidak puas hanya memandang, pengunjung bisa menyeberang ke Pulau Hiri dengan menyewa perahu nelayan. Harga sewanya, bisa negosiasi dengan nelayan setempat.
Berdasarkan cerita rakyat, Pulau Hiri dulunya dipakai sebagai tempat pengasingan Sultan Muhammad Djabir Syah. Pulau tersebut dulunya tidak terdeteksi oleh para tentara Belanda. Jadi, Sultan Muhammad Djabir yang merupakan ayah dari Sultan Ternate Mudaffar Sjah selamat dari kejaran Belanda.
Danau Tolire
Bergeser sedikit dari Pantai Sulamadaha, tempat wisata yang juga menjadi pilihan di hari libur, yakni Danau Tolire. Danau Tolire yang berada di bawah kaki Gunung Gamalama ini menyimpan sebuah kisah sedih. Menurut legenda, Danau Tolire terbagi menjadi dua bagian, yakni Tolire besar dan Tolire kecil. Pecahnya danau tersebut dikarenakan kekhilafan seorang ayah kepada anak gadisnya. Sang ayah memerkosa anak gadisnya.
Setelah tragedi memilukan tersebut, terjadi longsor dan danau meluap. Akibatnya, desa Takome tenggelam. Anehnya, setelah surut danau seolah terbagi menjadi dua bagian. Danau Tolire besar diperkirakan sebagai wujud dari sang ayah. Sementara itu, Danau Tolire kecil adalah wujud sang anak.
Jarak dari Danau Tolire besar dan Danau Tolire kecil hanya 200 meter. Danau Tolire kecil berada dekat tepi pantai. Airnya payau, karena jaraknya dekat dengan laut, yakni sekitar 50 meter. Bila mengunjungi Danau Tolire besar, otomatis harus melewati Danau Tolire kecil.
Sayangnya, keindahan Danau Tolire besar lebih menggiurkan ketimbang Danau Tolire kecil. Kebanyakan wisatawan dan warga memilih Danau Tolire besar sebagai tempat wisata. Danau Tolire besar menyerupai loyang raksasa, dengan luas sekitar lima hektar dan kedalaman 50 meter. Keunikan lainnya adalah air Danau Tolire besar berwana hijau saat musim panas dan coklat pada waktu hujan.
Untuk bisa menikmati pemandangan di sekitar Danau Tolire besar, pengunjung bisa masuk tanpa bayaran. Hanya saja, jarak dari jalan besar ke Danau Tolire lumayan jauh. Untung, ada jasa tukang ojek di depan pintu masuk Danau Tolire. Cukup membayar Rp 10.000, tukang ojek akan mengantar pulang pergi dari danau ke pintu masuk.
Selain menyimpan cerita memilukan, Danau Tolire besar juga memiliki kekuatan gaib. Masyarakat setempat percaya terdapat buaya siluman yang melindungi danau. Terlebih lagi, pada zaman dulu Danau Tolire besar merupakan tempat penyimpanan harta Sultan Ternate. Harta disembunyikan di dasar Danau Tolire besar, sehingga aman dari incaran Portugis pada abad ke-15.
Kekuatan gaib Danau Tolire besar bisa dibuktikan dengan cara melempar batu ke danau. Dipastikan, batu tidak akan pernah menyentuh permukaan air danau. Batu yang dilempar seperti hilang sebelum sampai ke permukaan danau. Pengunjung bisa membeli batu yang sengaja disediakan oleh warga. Satu batu harganya Rp 1.000.
Seusai menikmati keindahan danau dan mencoba lempar batu, pengunjung bisa beristirahat sejenak di bawah pepohonan besar. Istirahat di bawah pohon rindang akan bertambah nikmat bila ditemani jagung rebus manis dan teh hangat. Makanan dan minuman bisa dibeli di warung-warung kecil yang ada di sekitar Danau Tolire besar.
Pulau Tidore
Selain Danau Tolire Besar dan Kecil, masih banyak lagi tempat wisata di Maluku Utara yang layak dikunjungi. Bila bersedia meluangkan waktu lebih banyak, bisa mengunjungi Pulau Tidore yang ada di seberang Ternate. Untuk bisa sampai ke Pulau Tidore, dari pelabuhan Ternate bisa menggunakan speedboat kecil. Jarak tempuh dari pelabuhan Ternate ke Tidore hanya sekitar 10 menit saja. Sementara ongkos speedboat per orang sebesar Rp 8.000.
Sampai di pelabuhan Rum Tidore, wisatawan bisa menggunakan angkot biru untuk berkeliling pulau seluas 1.797 km2 ini. Pulau Tidore terbilang sepi dibandingkan Ternate. Pada pukul 18.00 waktu setempat, tidak ada lagi angkot yang beroperasi. Hanya kendaraan pribadi dan motor yang lalu-lalang.
Meskipun tergolong sepi, Pulau Tidore menyuguhkan tempat-tempat wisata yang tidak kalah indah dengan Ternate. Sebut saja wisata sejarah Tugu Pendaratan Sebastiano De Elaco. Tugu yang dibangun oleh pemerintah Spanyol ini menjadi satu-satunya bukti sejarah yang menyatakan bumi itu bulat. Dulu, saat terdampar di Pulau Tidore, Sebastian De Elaco berhasil membuktikan bahwa bumi itu bulat.
Tempat wisata lain di Tidore, yakni kolam air panas Akesahu. Kolam air panas ini berdekatan dengan pantai Akesahu. Dipercaya, dengan berendam di dalam kolam air panas berbagai penyakit bisa sembuh. Untuk bisa masuk ke kolam air panas Akesahu, pengunjung hanya perlu mengeluarkan uang masuk Rp 1.000 per orang.
Setelah berendam di kolam air panas, biasanya pengunjung diminta mengikatkan seutas tali di ranting pohon beringin besar. Tujuannya, agar penyakit tidak lagi ikut di badan. Penyakit akan tinggal di dalam tali yang terikat di pohon beringin besar.
Tidak hanya kolam air panas Akesahu, Pulau Tidore juga memiliki wisata taman laut Maetara, museum Kesultanan Tidore Sonyine Malige, Pantai Cobo, dan benteng Tahua. Pulau Tidore, untungnya tidak terlalu luas. Cukup dengan meluangkan waktu satu setengah jam, sudah bisa mengelilingi pulau menggunakan mobil. Kondisi jalan di Pulau Tidore pun sangat mulus. Berbeda jauh dengan kondisi jalan di Jakarta yang banyak lubang.
Oleh-oleh
Tidak hanya berburu tempat wisata, wisatawan pun harus menyempatkan waktu berbelanja oleh-oleh khas Maluku Utara di Pasar Gamalama, di jalan Bousorie. Perhiasan dari besi putih bisa menjadi pilihan oleh-oleh yang unik untuk dibawa pulang.
Perhiasan tersebut bervariasi bentuknya. Harganya juga cukup sebanding dengan kualitas besi putih yang anti karat. Asalkan pintar menawar, sebuah cincin besi putih bisa dibeli dengan harga Rp 20.000 sampai Rp 30.000.
Selain perhiasan, oleh-oleh khas lainnya, yakni kue kering kenari dan kacang kenari. Khusus untuk makanan di Ternate memang tergolong mahal.
Alasannya, bahan baku makanan masih diambil langsung dari Manado. Untuk itu, sebelum memesan makanan, ada baiknya bertanya berapa harga seporsi kepada penjual. [Elvira Anna Siahaan]
Sumber:
http://epaper.suarapembaruan.com/default.aspx?iid=24908&startpage=page0000017, dalam :
http://www.potlot-adventure.com/2009/05/03/banyak-harta-karun-di-ternate/
Kerajaan Tidore
1. Sejarah
Tidore merupakan salah satu pulau yang terdapat di gugusan kepulauan Maluku. Sebelum Islam datang ke bumi nusantara, Tidore dikenal dengan nama Kie Duko, yang berarti pulau yang bergunung api. Penamaan ini sesuai dengan kondisi topografi Tidore yang memiliki gunung api –bahkan tertinggi di gugusan kepulauan Maluku– yang mereka namakan gunung Marijang. Saat ini, gunung Marijang sudah tidak aktif lagi. Nama Tidore berasal dari gabungan dua rangkaian kata bahasa Tidore dan Arab dialek Irak: bahasa Tidore, To ado re, artinya, ‘aku telah sampai’ dan bahasa Arab dialek Irak anta thadore yang berarti ‘kamu datang’. Penggabungan dua rangkaian kata dari dua bahasa ini bermula dari suatu peristiwa yang terjadi di Tidore.
Menurut kisahnya, di daerah Tidore ini sering terjadi pertikaian antar para Momole (kepala suku), yang didukung oleh anggota komunitasnya masing-masing dalam memperebutkan wilayah kekuasaan persukuan. Pertikaian tersebut seringkali menimbulkan pertumpahan darah. Usaha untuk mengatasi pertikaian tersebut selalu mengalami kegagalan.
Suatu ketika, diperkirakan tahun 846 M, rombongan Ibnu Chardazabah, utusan Khalifah al-Mutawakkil dari Kerajaan Abbasiyah di Baghdad tiba di Tidore. Pada saat itu, di Tidore sedang terjadi pertikaian antar momole. Untuk meredakan dan menyelesaikan pertikaian tersebut, salah seorang anggota rombongan Ibnu Chardazabah, bernama Syech Yakub turun tangan dengan memfasilitasi perundingan yang disebut dengan Togorebo. Pertemuan disepakati di atas sebuah batu besar di kaki gunung Marijang. Kesepakatannya, momole yang tiba paling cepat ke lokasi pertemuan akan menjadi pemenang dan memimpin pertemuan. Dalam peristiwa itu, setiap momole yang sampai ke lokasi pertemuan selalu meneriakkan To ado re, karena merasa dialah yang datang pertama kali dan menjadi pemenang. Namun, ternyata beberapa orang momole yang bertikai tersebut tiba pada saat yang sama, sehingga tidak ada yang kalah dan menang. Berselang beberapa saat kemudian, Syech Yakub yang menjadi fasilitator juga tiba di lokasi dan berujar dengan dialek Iraknya: Anta thadore. Karena para momole datang pada saat yang bersamaan, maka tidak ada yang menjadi pemenang, akhirnya yang diangkat sebagai pemimpin adalah Syech Yakub. Konon, sejak saat itu mulai dikenal kata Tidore, kombinasi dari dua kata: Ta ado re dan Thadore. Demikianlah, kata Tidore akhirnya menggantikan kata Kie Duko dan menjadi nama sebuah kerajaan besar.
Menurut catatan Kesultanan Tidore, kerajaan ini berdiri sejak Jou Kolano Sahjati naik tahta pada 12 Rabiul Awal 502 H (1108 M). Namun, sumber tersebut tidak menjelaskan secara jelas lokasi pusat kerajaan pada saat itu. Asal usul Sahjati bisa dirunut dari kisah kedatangan Djafar Noh dari negeri Maghribi di Tidore. Noh kemudian mempersunting seorang gadis setempat, bernama Siti Nursafa. Dari perkawinan tersebut, lahir empat orang putra dan empat orang putri. Empat putra tersebut adalah: Sahjati, pendiri kerajaan Tidore; Darajati, pendiri kesultanan Moti; Kaicil Buka, pendiri kesultanan Makian; Bab Mansur Malamo, pendiri kesultanan Ternate. Sedangkan empat orang putri adalah: Boki Saharnawi, yang menurunkan raja-raja Banggai; Boki Sadarnawi, yang menurunkan raja-raja Tobungku; Boki Sagarnawi, yang menurunkan raja-raja Loloda; dan Boki Cita Dewi, yang menurunkan Marsaoli dan Mardike. Kerajaan Tidore merupakan salah satu pilar yang membentuk Kie Raha, yang lainnya adalah Ternate, Makian dan Moti.
Berdasarkan legenda asal usul di atas, tampak bahwa empat kerajaan ini berasal dari moyang yang sama: Djafar Noh dan Siti Nursafa. Terlepas dari benar atau salah, kemunculan dan perkembangan legenda asal-usul tersebut secara jelas menunjukkan adanya kesadaran persaudaraan di antara kerajaan Kie Raha (gabungan empat kerajaan utama di Maluku Utara, yaitu: Ternate, Tidore, Makian dan Moti) sehingga mereka kemudian melegitimasinya dengan sebuah mitos asal-usul.
Sejak awal berdirinya hingga raja yang ke-4, pusat kerajaan Tidore belum bisa dipastikan. Barulah pada era Jou Kolano Bunga Mabunga Balibung, informasi mengenai pusat kerajaan Tidore sedikit terkuak, itupun masih dalam perdebatan. Tempat tersebut adalah Balibunga, namun para pemerhati sejarah berbeda pendapat dalam menentukan dimana sebenarnya Balibunga ini. Ada yang mengatakannya di Utara Tidore, dan adapula yang mengatakannya di daerah pedalaman Tidore selatan.
Pada tahun 1495 M, Sultan Ciriliyati naik tahta dan menjadi penguasa Tidore pertama yang memakai gelar sultan. Saat itu, pusat kerajaan berada di Gam Tina. Ketika Sultan Mansur naik tahta tahun 1512 M, ia memindahkan pusat kerajaan dengan mendirikan perkampungan baru di Rum Tidore Utara. Posisi ibukota baru ini berdekatan dengan Ternate, dan diapit oleh Tanjung Mafugogo dan pulau Maitara. Dengan keadaan laut yang indah dan tenang, lokasi ibukota baru ini cepat berkembang dan menjadi pelabuhan yang ramai.
Dalam sejarahnya, terjadi beberapa kali perpindahan ibukota karena sebab yang beraneka ragam. Pada tahun 1600 M, ibukota dipindahkan oleh Sultan Mole Majimo (Alauddin Syah) ke Toloa di selatan Tidore. Perpindahan ini disebabkan meruncingnya hubungan dengan Ternate, sementara posisi ibukota sangat dekat, sehingga sangat rawan mendapat serangan. Pendapat lain menambahkan bahwa, perpindahan didorong oleh keinginan untuk berdakwah membina komunitas Kolano Tomabanga yang masih animis agar memeluk Islam. Perpindahan ibukota yang terakhir adalah ke Limau Timore di masa Sultan Saifudin (Jou Kota). Limau Timore ini kemudian berganti nama menjadi Soasio hingga saat ini.
Pada abad ke 16 M, orang Portugis dan Spanyol datang ke Maluku –termasuk Tidore– untuk mencari rempah-rempah, momonopoli perdagangan kemudian menguasai dan menjajah negeri kepulauan tersebut. Dalam usaha untuk mempertahankan diri, telah terjadi beberapa kali pertempuran antara kerajaaan-kerajaan di Kepulauan Maluku melawan kolonial Portugis dan Spanyol. Terkadang, Tidore, Ternate, Bacan dan Jailolo bersekutu sehingga kolonial Eropa tersebut mengalami kesulitan untuk menaklukkan Tidore dan kerajaan lainnya.
Sepeninggal Portugis, datang Belanda ke Tidore dengan tujuan yang sama: memonopoli dan menguasai Tidore demi keuntungan Belanda sendiri. Dalam sejarah perjuangan di Tidore, sultan yang dikenal paling gigih dan sukses melawan Belanda adalah Sultan Nuku (1738-1805 M). Selama bertahun-tahun, ia berjuang untuk mengusir Belanda dari seluruh kepulauan Maluku, termasuk Ternate, Bacan dan Jailolo. Perjuangan tersebut membuahkan hasil dengan menyerahnya Belanda pada Sultan Nuku pada 21 Juni 1801 M. Dengan itu, Ternate, Tidore, Bacan dan Jailolo kembali merdeka dari kekuasaan asing. Inggris yang juga ikut membantu Tidore dalam mengusir Belanda kemudian diberi kebebasan untuk menguasai Ambon dan Banda, dan mengadakan perjanjian damai dengan Sultan Nuku, sehingga relasi antara kedua belah pihak berjalan cukup harmonis. Di masa Sultan Nuku inilah, Tidore mencapai masa kegemilangan dan menjadi kerajaan besar yang disegani di seluruh kawasan itu, termasuk oleh kolonial Eropa. Di masa Sultan Nuku juga, kekuasaan Tidore sampai ke Kepulauan Pasifik. Menurut catatan sejarah Tidore, Sultan Nuku sendiri yang datang dan memberi nama pulau-pulau yang ia kuasai, dari Mikronesia hingga Melanesia dan Kepulauan Solomon. Nama-nama pulau yang masih memakai nama Nuku hingga saat ini adalah Nuku Hifa, Nuku Oro, Nuku Maboro, Nuku Nau, Nuku Lae-lae, Nuku Fetau dan Nuku Nono.
Seiring dengan masuknya kolonial Eropa, agama Kristen juga masuk ke Tidore. Namun, karena pengaruh Islam yang sudah begitu mengakar, maka agama ini tidak berhasil mengembangkan pengaruhnya di Tidore.
2. Silsilah
Dari sejak awal berdirinya hingga saat ini, telah berkuasa 38 orang sultan di Tidore. Saat ini, yang berkuasa adalah Sultan Hi. Djafar Syah. (nama dan silsilah para sultan lainnya, dari awal hingga yang ke-37 masih dalam proses pengumpulan data).
3. Periode Pemerintahan
Kerajaan Tidore berdiri sejak 1108 M dan berdiri sebagai kerajaan merdeka hingga akhir abad ke-18 M. setelah itu, kerajaan Tidore berada dalam kekuasaan kolonial Belanda. Setelah Indonesia merdeka, Tidore menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
4. Wilayah Kekuasaan
Pada masa kejayaannya, wilayah kerajaan Tidore mencakup kawasan yang cukup luas hingga mencapai Kepulauan Pasifik. Wilayah sekitar pulau Tidore yang menjadi bagian wilayahnya adalah Papua, gugusan pulau-pulau Raja Ampat dan pulau Seram. Di Kepulauan Pasifik, kekuasaan Tidore mencakup Mikronesia, Kepulauan Marianas, Marshal, Ngulu, Kepulauan Kapita Gamrange, Melanesia, Kepulauan Solomon dan beberapa pulau yang masih menggunakan identitas Nuku, seperti Nuku Haifa, Nuku Oro, Nuku Maboro dan Nuku Nau. Wilayah lainnya yang termasuk dalam kekuasaan Tidore adalah Haiti dan Kepulauan Nuku Lae-lae, Nuku Fetau, Nuku Wange dan Nuku Nono.
5. Struktur Pemerintahan
Sistem pemerintahan di Tidore cukup mapan dan berjalan dengan baik. Struktur tertinggi kekuasaan berada di tangan sultan. Menariknya, Tidore tidak mengenal sistem putra mahkota sebagaimana kerajaan-kerajaan lainnya di kawasan Nusantara. Seleksi sultan dilakukan melalui mekanisme seleksi calon-calon yang diajukan dari Dano-dano Folaraha (wakil-wakil marga dari Folaraha), yang terdiri dari Fola Yade, Fola Ake Sahu, Fola Rum dan Fola Bagus. Dari nama-nama ini, kemudian dipilih satu di antaranya untuk menjadi sultan.
Ketika Tidore mencapai masa kejayaan di era Sultan Nuku, sistem pemerintahan di Tidore telah berjalan dengan baik. Saat itu, sultan (kolano) dibantu oleh suatu Dewan Wazir, dalam bahasa Tidore disebut Syara, adat se nakudi. Dewan ini dipimpin oleh sultan dan pelaksana tugasnya diserahkan kepada Joujau (perdana menteri). Anggota Dewan wazir terdiri dari Bobato pehak raha (empat pihak bobato; semcam departemen) dan wakil dari wilayah kekuasan. Bobato ini bertugas untuk mengatur dan melaksanakan keputusan Dewan Wazir. Empat bobato tersebut adalah: (1) pehak labe, semacam departemen agama yang membidangi masalah syariah. Anggota pehak labe terdiri dari para kadhi, imam, khatib dan modim; (2) pehak adat bidang pemerintahan dan kemasyarakatan yang terdiri dari Jojau, Kapita Lau (panglima perang), Hukum Yade (menteri urusan luar), Hukum Soasio (menteri urusan dalam) dan Bobato Ngofa (menteri urusan kabinet); (3) Pehak Kompania (bidang pertahanan keamanan) yang terdiri dari Kapita Kie, Jou Mayor dan Kapita Ngofa; (4) pehak juru tulis yang dipimpin oleh seorang berpangkat Tullamo (sekretaris kerajaan). Di bawahnya ada Sadaha (kepala rumah tangga), Sowohi Kie (protokoler kerajaan bidang kerohanian), Sowohi Cina (protokoler khusus urusan orang Cina), Fomanyira Ngare (public relation kesultanan) dan Syahbandar (urusan administrasi pelayaran). Selain struktur di atas, masih ada jabatan lain yang membantu menjalankan tugas pemerintahan, seperti Gonone yang membidangi intelijen dan Serang oli yang membidangi urusan propaganda.
6. Kehidupan Sosial Budaya
Masyarakat di Kesultanan Tidore merupakan penganut agama Islam yang taat, dan Tidore sendiri telah menjadi pusat pengembangan agama Islam di kawasan kepulauan timur Indonesia sejak dulu kala. Karena kuatnya pengaruh agama Islam dalam kehidupan mereka, maka para ulama memiliki status dan peran yang penting di masyarakat. Kuatnya relasi antara masyarakat Tidore dengan Islam tersimbol dalam ungkapan adat mereka: Adat ge mauri Syara, Syara mauri Kitabullah (Adat bersendi Syara, Syara bersendi Kitabullah). Perpaduan ini berlangsung harmonis hingga saat ini
Berkenaan dengan garis kekerabatan, masyarakat Tidore menganut sistem matrilineal. Namun, tampaknya terjadi perubahan ke arah patrilineal seiring dengan menguatnya pengaruh Islam di Tidore. Klen patrilineal yang terpenting mereka sebut soa. Dalam sistem adat Tidore, perkawinan ideal adalah perkawinan antar saudara sepupu (kufu). Setelah pernikahan, setiap pasangan baru bebas memilih lokasi tempat tinggal, apakah di lingkungan kerabat suami atau istri. Dalam antropologi sering disebut dengan utrolokal.
Dalam usaha untuk menjaga keharmonisan dengan alam, masyarakat Tidore menyelenggarakan berbagai jenis upacara adat. Di antara upacara tersebut adalah upacara Legu Gam Adat Negeri, upacara Lufu Kie daera se Toloku (mengitari wilayah diiringi pembacaan doa selamat), upacara Ngam Fugo, Dola Gumi, Joko Hale dan sebagainya.
Untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari, orang Tidore menggunakan bahasa Tidore yang tergolong dalam rumpun non-Austronesia. Dengan bahasa ini pula, orang Tidore kemudian mengembangkan sastra lisan dan tulisan. Bentuk satra lisan yang populer adalah dola bololo (semacam peribahasa atau pantun kilat), dalil tifa (ungkapan filosofis yang diiringi alat tifa atau gendang), kabata (sastra lisan yang dipertunjukkan oleh dua regu dalam jumlah yang genap, argumennya dalam bentuk syair, gurindam, bidal dsb). Sebagian di antara satra lisan ini disampaikan dan dipertunjukkan dengan iringan alat tifa, sejenis gendang. Sasra tulisan juga cukup baik berkembang di Tidore, hal ini bisa dilihat dari peninggalan manuskrip kesultanan Tidore yang masih tersimpan di Museun Nasional Jakarta. Dan boleh jadi, manuskrip-manuskrip tersebut masih banyak tersebar di tangan masyarakat secara individual.
Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, orang-orang Tidore banyak yang bercocok tanam di ladang. Tanaman yang banyak ditanam adalah padi, jagung, ubi jalar dan ubi kayu. Selain itu, juga banyak ditanam cengkeh, pala dan kelapa. Inilah rempah-rempah yang menjadikan Tidore terkenal, dikunjungi para pedagang asing Cina, India dan Arab, dan akhirnya menjadi rebutan para kolonial kulit putih.
Sumber:
http://melayuonline.com/ind/history/dig/336/kesultanan-tidore, dalam :
http://www.awangfaisal.com/kerajaan-tidore
Tidore merupakan salah satu pulau yang terdapat di gugusan kepulauan Maluku. Sebelum Islam datang ke bumi nusantara, Tidore dikenal dengan nama Kie Duko, yang berarti pulau yang bergunung api. Penamaan ini sesuai dengan kondisi topografi Tidore yang memiliki gunung api –bahkan tertinggi di gugusan kepulauan Maluku– yang mereka namakan gunung Marijang. Saat ini, gunung Marijang sudah tidak aktif lagi. Nama Tidore berasal dari gabungan dua rangkaian kata bahasa Tidore dan Arab dialek Irak: bahasa Tidore, To ado re, artinya, ‘aku telah sampai’ dan bahasa Arab dialek Irak anta thadore yang berarti ‘kamu datang’. Penggabungan dua rangkaian kata dari dua bahasa ini bermula dari suatu peristiwa yang terjadi di Tidore.
Menurut kisahnya, di daerah Tidore ini sering terjadi pertikaian antar para Momole (kepala suku), yang didukung oleh anggota komunitasnya masing-masing dalam memperebutkan wilayah kekuasaan persukuan. Pertikaian tersebut seringkali menimbulkan pertumpahan darah. Usaha untuk mengatasi pertikaian tersebut selalu mengalami kegagalan.
Suatu ketika, diperkirakan tahun 846 M, rombongan Ibnu Chardazabah, utusan Khalifah al-Mutawakkil dari Kerajaan Abbasiyah di Baghdad tiba di Tidore. Pada saat itu, di Tidore sedang terjadi pertikaian antar momole. Untuk meredakan dan menyelesaikan pertikaian tersebut, salah seorang anggota rombongan Ibnu Chardazabah, bernama Syech Yakub turun tangan dengan memfasilitasi perundingan yang disebut dengan Togorebo. Pertemuan disepakati di atas sebuah batu besar di kaki gunung Marijang. Kesepakatannya, momole yang tiba paling cepat ke lokasi pertemuan akan menjadi pemenang dan memimpin pertemuan. Dalam peristiwa itu, setiap momole yang sampai ke lokasi pertemuan selalu meneriakkan To ado re, karena merasa dialah yang datang pertama kali dan menjadi pemenang. Namun, ternyata beberapa orang momole yang bertikai tersebut tiba pada saat yang sama, sehingga tidak ada yang kalah dan menang. Berselang beberapa saat kemudian, Syech Yakub yang menjadi fasilitator juga tiba di lokasi dan berujar dengan dialek Iraknya: Anta thadore. Karena para momole datang pada saat yang bersamaan, maka tidak ada yang menjadi pemenang, akhirnya yang diangkat sebagai pemimpin adalah Syech Yakub. Konon, sejak saat itu mulai dikenal kata Tidore, kombinasi dari dua kata: Ta ado re dan Thadore. Demikianlah, kata Tidore akhirnya menggantikan kata Kie Duko dan menjadi nama sebuah kerajaan besar.
Menurut catatan Kesultanan Tidore, kerajaan ini berdiri sejak Jou Kolano Sahjati naik tahta pada 12 Rabiul Awal 502 H (1108 M). Namun, sumber tersebut tidak menjelaskan secara jelas lokasi pusat kerajaan pada saat itu. Asal usul Sahjati bisa dirunut dari kisah kedatangan Djafar Noh dari negeri Maghribi di Tidore. Noh kemudian mempersunting seorang gadis setempat, bernama Siti Nursafa. Dari perkawinan tersebut, lahir empat orang putra dan empat orang putri. Empat putra tersebut adalah: Sahjati, pendiri kerajaan Tidore; Darajati, pendiri kesultanan Moti; Kaicil Buka, pendiri kesultanan Makian; Bab Mansur Malamo, pendiri kesultanan Ternate. Sedangkan empat orang putri adalah: Boki Saharnawi, yang menurunkan raja-raja Banggai; Boki Sadarnawi, yang menurunkan raja-raja Tobungku; Boki Sagarnawi, yang menurunkan raja-raja Loloda; dan Boki Cita Dewi, yang menurunkan Marsaoli dan Mardike. Kerajaan Tidore merupakan salah satu pilar yang membentuk Kie Raha, yang lainnya adalah Ternate, Makian dan Moti.
Berdasarkan legenda asal usul di atas, tampak bahwa empat kerajaan ini berasal dari moyang yang sama: Djafar Noh dan Siti Nursafa. Terlepas dari benar atau salah, kemunculan dan perkembangan legenda asal-usul tersebut secara jelas menunjukkan adanya kesadaran persaudaraan di antara kerajaan Kie Raha (gabungan empat kerajaan utama di Maluku Utara, yaitu: Ternate, Tidore, Makian dan Moti) sehingga mereka kemudian melegitimasinya dengan sebuah mitos asal-usul.
Sejak awal berdirinya hingga raja yang ke-4, pusat kerajaan Tidore belum bisa dipastikan. Barulah pada era Jou Kolano Bunga Mabunga Balibung, informasi mengenai pusat kerajaan Tidore sedikit terkuak, itupun masih dalam perdebatan. Tempat tersebut adalah Balibunga, namun para pemerhati sejarah berbeda pendapat dalam menentukan dimana sebenarnya Balibunga ini. Ada yang mengatakannya di Utara Tidore, dan adapula yang mengatakannya di daerah pedalaman Tidore selatan.
Pada tahun 1495 M, Sultan Ciriliyati naik tahta dan menjadi penguasa Tidore pertama yang memakai gelar sultan. Saat itu, pusat kerajaan berada di Gam Tina. Ketika Sultan Mansur naik tahta tahun 1512 M, ia memindahkan pusat kerajaan dengan mendirikan perkampungan baru di Rum Tidore Utara. Posisi ibukota baru ini berdekatan dengan Ternate, dan diapit oleh Tanjung Mafugogo dan pulau Maitara. Dengan keadaan laut yang indah dan tenang, lokasi ibukota baru ini cepat berkembang dan menjadi pelabuhan yang ramai.
Dalam sejarahnya, terjadi beberapa kali perpindahan ibukota karena sebab yang beraneka ragam. Pada tahun 1600 M, ibukota dipindahkan oleh Sultan Mole Majimo (Alauddin Syah) ke Toloa di selatan Tidore. Perpindahan ini disebabkan meruncingnya hubungan dengan Ternate, sementara posisi ibukota sangat dekat, sehingga sangat rawan mendapat serangan. Pendapat lain menambahkan bahwa, perpindahan didorong oleh keinginan untuk berdakwah membina komunitas Kolano Tomabanga yang masih animis agar memeluk Islam. Perpindahan ibukota yang terakhir adalah ke Limau Timore di masa Sultan Saifudin (Jou Kota). Limau Timore ini kemudian berganti nama menjadi Soasio hingga saat ini.
Pada abad ke 16 M, orang Portugis dan Spanyol datang ke Maluku –termasuk Tidore– untuk mencari rempah-rempah, momonopoli perdagangan kemudian menguasai dan menjajah negeri kepulauan tersebut. Dalam usaha untuk mempertahankan diri, telah terjadi beberapa kali pertempuran antara kerajaaan-kerajaan di Kepulauan Maluku melawan kolonial Portugis dan Spanyol. Terkadang, Tidore, Ternate, Bacan dan Jailolo bersekutu sehingga kolonial Eropa tersebut mengalami kesulitan untuk menaklukkan Tidore dan kerajaan lainnya.
Sepeninggal Portugis, datang Belanda ke Tidore dengan tujuan yang sama: memonopoli dan menguasai Tidore demi keuntungan Belanda sendiri. Dalam sejarah perjuangan di Tidore, sultan yang dikenal paling gigih dan sukses melawan Belanda adalah Sultan Nuku (1738-1805 M). Selama bertahun-tahun, ia berjuang untuk mengusir Belanda dari seluruh kepulauan Maluku, termasuk Ternate, Bacan dan Jailolo. Perjuangan tersebut membuahkan hasil dengan menyerahnya Belanda pada Sultan Nuku pada 21 Juni 1801 M. Dengan itu, Ternate, Tidore, Bacan dan Jailolo kembali merdeka dari kekuasaan asing. Inggris yang juga ikut membantu Tidore dalam mengusir Belanda kemudian diberi kebebasan untuk menguasai Ambon dan Banda, dan mengadakan perjanjian damai dengan Sultan Nuku, sehingga relasi antara kedua belah pihak berjalan cukup harmonis. Di masa Sultan Nuku inilah, Tidore mencapai masa kegemilangan dan menjadi kerajaan besar yang disegani di seluruh kawasan itu, termasuk oleh kolonial Eropa. Di masa Sultan Nuku juga, kekuasaan Tidore sampai ke Kepulauan Pasifik. Menurut catatan sejarah Tidore, Sultan Nuku sendiri yang datang dan memberi nama pulau-pulau yang ia kuasai, dari Mikronesia hingga Melanesia dan Kepulauan Solomon. Nama-nama pulau yang masih memakai nama Nuku hingga saat ini adalah Nuku Hifa, Nuku Oro, Nuku Maboro, Nuku Nau, Nuku Lae-lae, Nuku Fetau dan Nuku Nono.
Seiring dengan masuknya kolonial Eropa, agama Kristen juga masuk ke Tidore. Namun, karena pengaruh Islam yang sudah begitu mengakar, maka agama ini tidak berhasil mengembangkan pengaruhnya di Tidore.
2. Silsilah
Dari sejak awal berdirinya hingga saat ini, telah berkuasa 38 orang sultan di Tidore. Saat ini, yang berkuasa adalah Sultan Hi. Djafar Syah. (nama dan silsilah para sultan lainnya, dari awal hingga yang ke-37 masih dalam proses pengumpulan data).
3. Periode Pemerintahan
Kerajaan Tidore berdiri sejak 1108 M dan berdiri sebagai kerajaan merdeka hingga akhir abad ke-18 M. setelah itu, kerajaan Tidore berada dalam kekuasaan kolonial Belanda. Setelah Indonesia merdeka, Tidore menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
4. Wilayah Kekuasaan
Pada masa kejayaannya, wilayah kerajaan Tidore mencakup kawasan yang cukup luas hingga mencapai Kepulauan Pasifik. Wilayah sekitar pulau Tidore yang menjadi bagian wilayahnya adalah Papua, gugusan pulau-pulau Raja Ampat dan pulau Seram. Di Kepulauan Pasifik, kekuasaan Tidore mencakup Mikronesia, Kepulauan Marianas, Marshal, Ngulu, Kepulauan Kapita Gamrange, Melanesia, Kepulauan Solomon dan beberapa pulau yang masih menggunakan identitas Nuku, seperti Nuku Haifa, Nuku Oro, Nuku Maboro dan Nuku Nau. Wilayah lainnya yang termasuk dalam kekuasaan Tidore adalah Haiti dan Kepulauan Nuku Lae-lae, Nuku Fetau, Nuku Wange dan Nuku Nono.
5. Struktur Pemerintahan
Sistem pemerintahan di Tidore cukup mapan dan berjalan dengan baik. Struktur tertinggi kekuasaan berada di tangan sultan. Menariknya, Tidore tidak mengenal sistem putra mahkota sebagaimana kerajaan-kerajaan lainnya di kawasan Nusantara. Seleksi sultan dilakukan melalui mekanisme seleksi calon-calon yang diajukan dari Dano-dano Folaraha (wakil-wakil marga dari Folaraha), yang terdiri dari Fola Yade, Fola Ake Sahu, Fola Rum dan Fola Bagus. Dari nama-nama ini, kemudian dipilih satu di antaranya untuk menjadi sultan.
Ketika Tidore mencapai masa kejayaan di era Sultan Nuku, sistem pemerintahan di Tidore telah berjalan dengan baik. Saat itu, sultan (kolano) dibantu oleh suatu Dewan Wazir, dalam bahasa Tidore disebut Syara, adat se nakudi. Dewan ini dipimpin oleh sultan dan pelaksana tugasnya diserahkan kepada Joujau (perdana menteri). Anggota Dewan wazir terdiri dari Bobato pehak raha (empat pihak bobato; semcam departemen) dan wakil dari wilayah kekuasan. Bobato ini bertugas untuk mengatur dan melaksanakan keputusan Dewan Wazir. Empat bobato tersebut adalah: (1) pehak labe, semacam departemen agama yang membidangi masalah syariah. Anggota pehak labe terdiri dari para kadhi, imam, khatib dan modim; (2) pehak adat bidang pemerintahan dan kemasyarakatan yang terdiri dari Jojau, Kapita Lau (panglima perang), Hukum Yade (menteri urusan luar), Hukum Soasio (menteri urusan dalam) dan Bobato Ngofa (menteri urusan kabinet); (3) Pehak Kompania (bidang pertahanan keamanan) yang terdiri dari Kapita Kie, Jou Mayor dan Kapita Ngofa; (4) pehak juru tulis yang dipimpin oleh seorang berpangkat Tullamo (sekretaris kerajaan). Di bawahnya ada Sadaha (kepala rumah tangga), Sowohi Kie (protokoler kerajaan bidang kerohanian), Sowohi Cina (protokoler khusus urusan orang Cina), Fomanyira Ngare (public relation kesultanan) dan Syahbandar (urusan administrasi pelayaran). Selain struktur di atas, masih ada jabatan lain yang membantu menjalankan tugas pemerintahan, seperti Gonone yang membidangi intelijen dan Serang oli yang membidangi urusan propaganda.
6. Kehidupan Sosial Budaya
Masyarakat di Kesultanan Tidore merupakan penganut agama Islam yang taat, dan Tidore sendiri telah menjadi pusat pengembangan agama Islam di kawasan kepulauan timur Indonesia sejak dulu kala. Karena kuatnya pengaruh agama Islam dalam kehidupan mereka, maka para ulama memiliki status dan peran yang penting di masyarakat. Kuatnya relasi antara masyarakat Tidore dengan Islam tersimbol dalam ungkapan adat mereka: Adat ge mauri Syara, Syara mauri Kitabullah (Adat bersendi Syara, Syara bersendi Kitabullah). Perpaduan ini berlangsung harmonis hingga saat ini
Berkenaan dengan garis kekerabatan, masyarakat Tidore menganut sistem matrilineal. Namun, tampaknya terjadi perubahan ke arah patrilineal seiring dengan menguatnya pengaruh Islam di Tidore. Klen patrilineal yang terpenting mereka sebut soa. Dalam sistem adat Tidore, perkawinan ideal adalah perkawinan antar saudara sepupu (kufu). Setelah pernikahan, setiap pasangan baru bebas memilih lokasi tempat tinggal, apakah di lingkungan kerabat suami atau istri. Dalam antropologi sering disebut dengan utrolokal.
Dalam usaha untuk menjaga keharmonisan dengan alam, masyarakat Tidore menyelenggarakan berbagai jenis upacara adat. Di antara upacara tersebut adalah upacara Legu Gam Adat Negeri, upacara Lufu Kie daera se Toloku (mengitari wilayah diiringi pembacaan doa selamat), upacara Ngam Fugo, Dola Gumi, Joko Hale dan sebagainya.
Untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari, orang Tidore menggunakan bahasa Tidore yang tergolong dalam rumpun non-Austronesia. Dengan bahasa ini pula, orang Tidore kemudian mengembangkan sastra lisan dan tulisan. Bentuk satra lisan yang populer adalah dola bololo (semacam peribahasa atau pantun kilat), dalil tifa (ungkapan filosofis yang diiringi alat tifa atau gendang), kabata (sastra lisan yang dipertunjukkan oleh dua regu dalam jumlah yang genap, argumennya dalam bentuk syair, gurindam, bidal dsb). Sebagian di antara satra lisan ini disampaikan dan dipertunjukkan dengan iringan alat tifa, sejenis gendang. Sasra tulisan juga cukup baik berkembang di Tidore, hal ini bisa dilihat dari peninggalan manuskrip kesultanan Tidore yang masih tersimpan di Museun Nasional Jakarta. Dan boleh jadi, manuskrip-manuskrip tersebut masih banyak tersebar di tangan masyarakat secara individual.
Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, orang-orang Tidore banyak yang bercocok tanam di ladang. Tanaman yang banyak ditanam adalah padi, jagung, ubi jalar dan ubi kayu. Selain itu, juga banyak ditanam cengkeh, pala dan kelapa. Inilah rempah-rempah yang menjadikan Tidore terkenal, dikunjungi para pedagang asing Cina, India dan Arab, dan akhirnya menjadi rebutan para kolonial kulit putih.
Sumber:
http://melayuonline.com/ind/history/dig/336/kesultanan-tidore, dalam :
http://www.awangfaisal.com/kerajaan-tidore
Provinsi Maluku Utara
Alamat: Bappeda Provinsi Maluku Utara Jl. Pahlawan Revolusi No 1 Ternate
Telepon: 0921 - 21044
Fax: 0921 – 326155
Email: webmaster
Website: www.malukuutaraprov.go.id
Provinsi Maluku Utara memiliki perbatasan dengan Laut Halmahera di sebelah timur, Laut Maluku di sebelah barat, Laut Pasifik di sebelah utara dan Laut Seram di sebelah selatan. Ibukota provinsi terletak di Kota Ternate.
Jumlah penduduk sebesar 960 ribu jiwa (Oktober 2008) dengan tingkat kepadatan penduduk 24 kilometer persegi (2008). Jumlah angkatan kerja pada bulan Agustus 2008 sebesar 422 ribu jiwa, penduduk yang bekerja sebanyak 394 ribu jiwa dan pengangguran sebanyak 27 ribu jiwa. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 6,48 persen.
Jumlah penduduk miskin pada tahun 2007 sebanyak 110 ribu jiwa (11,97 persen) dimana 89,35 persen berada di pedesaan. Upah Minimum Provinsi (UMP) tahun 2009 sebesar Rp 770.000. Jumlah penerima BLT (2005) menurut kategori sangat miskin sebanyak 27 ribu jiwa, miskin sebanyak 23 ribu jiwa, dan mendekati miskin sebanyak 17 ribu jiwa. Indeks Pembangunan Manusia provinsi ini di tahun 2006 adalah sebesar 67, 5, sementara angka indeks untuk Indonesia sebesar 70,1 pada tahun yang sama.
SUMBER DAYA ALAM
Pertanian, Perkebunan dan Perikanan
Luas lahan sawah di Provinsi Maluku Utara adalah 50 ribu ha yang terdiri dari lahan irigasi teknis dan lahan non irigasi teknis dan luas areal panen adalah 17 ribu ha dengan produksi padi sebesar 58 ribu ton/tahun. Produksi palawija yang dihasilkan sebesar 158 ribu ton/tahun dengan menggunakan lahan 22 ribu ha yang digunakan untuk tanaman jagung, ubi jalar dan ubi kayu. Luas lahan perkebunan adalah 546 ribu ha yang ditanami cengkeh, kelapa, pala, kakao, kopi, jambu mete, lada, vanili dan cassivera. Perkebunan kakao menghasilkan 17 ribu ton. Sektor perikanan tangkap memiliki produksi mencapai 524 ribu ton/tahun dengan potensi lestari sebanyak 478.382 ton. Perikanan secara umum sebesar 1,04 juta ton yang terdiri dari ikan pelagis besar, ikan pelagis kecil, ikan demersal, cumi-cumi, udang peneid, rumput laut, ikan kerapu, ikan nila, ikan mas, dan udang windu.
Kehutanan
Luas kawasan hutan adalah 2,86 juta ha yang terbagi atas hutan lindung, hutan produksi terbatas, hutan produksi, hutan konversi dan hutan PPA, dengan produksi kayu mencapai 101 ribu km2.
Pertambangan
Potensi pertambangan antara lain pertambangan nikel dengan cadangan 42,76 juta ton; emas dengan cadangan 192 juta ton; tembaga dengan cadangan 240 juta ton dan pasir besi dengan perkiraan cadangan 69 ribu ton. Pemanfaatan tambang emas dilakukan oleh PT Nusa Halmahera Mineral di Kao dan Malifut (Pulau Halmahera) serta biji nikel oleh PT Aneka Tambang di Pulau Gebe dan Pulau Pakal (Pulau Halmahera).
KONDISI EKONOMI TRIWULAN III-2009
Pertumbuhan ekonomi mengalami percepatan jika dibandingkan triwulan sebelumnya. Secara tahunan, pertumbuhan pada triwulan II-2009 sebesar 4,97% sedangkan pada triwulan laporan tumbuh 5,35%. Kinerja ekonomi yang terjadi pada triwulan laporan masih melanjutkan trend positif setelah kontraksi ekonomi yang terjadi pada triwulan IV- 2008.
Pertumbuhan ekonomi masih didominasi oleh konsumsi masyarakat dan pengeluaran pemerintah. Konsumsi rumah tangga memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 8,86% sedangkan pengeluaran pemerintah kontribusinya sebesar 5,54%. Pertumbuhan tahunan tertinggi adalah pengeluaran pemerintah yang tumbuh sebesar 22,74% (yoy) sedangkan secara tahunan ekspor mengalami penurunan sebesar minus 19,54% (yoy).
Tingkat investasi meningkat sebesar 11,50% (yoy) berbeda dengan triwulan sebelumnya yaitu sebesar 33,51% (yoy). Investasi masih didominasi oleh pembangunan infratruktur oleh Pemerintah Daerah. Sedangkan investasi swasta memiliki sasaran investasi utama di bidang perikanan dan pertambangan.
Sementara itu, sektor pertambangan & penggalian serta sektor listrik, gas & air bersih mengalami kontraksi, sedangkan sektor lainnya ekspansif. Sektor yang memberikan kontribusi tinggi terhadap pertumbuhan ekonomi adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran (2,18%), sedangkan sektor yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah sektor jasa-jasa (11,19%).
Tingkat inflasi di Kota Ternate mengalami penurunan dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun sebelumnya namun masih mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan tingkat harga pada Triwulan II-2009. Secara triwulanan inflasi sebesar 0,27%, sedangkan secara tahunan sebesar 1,36% lebih rendah jika dibandingkan dengan inflasi tahunan yang terjadi pada
triwulan III-2009 yang mencapai 4,34%.
Realisasi pendapatan hingga bulan maret 2009 adalah Rp 313,71 miliar rupiah dimana target anggaran yang ditetapkan adalah 721,4 miliar rupiah. Bila ditinjau lebih rinci, pendapatan yang berasal dari dana perimbangan memiliki posri terbesar, dengan tingkat realisasi mencapai 46,17%.
Dari sisi belanja daerah pada akhir Bulan Juni 2009 sudah terealisasi sebesar 37,37%. Share belanja langsung Pemda (termasuk belanja modal) lebih besar bila dibandingkan dengan belanja tidak langsung. Akan tetapi realisasi belanja tidak langsung justru lebih tinggi dari realisasi belanja langsung.
Sumber :
Asriani, Kholidah
http://nasional.vivanews.com/news/read/7397-provinsi_maluku_utara
5 November 2008
Telepon: 0921 - 21044
Fax: 0921 – 326155
Email: webmaster
Website: www.malukuutaraprov.go.id
Provinsi Maluku Utara memiliki perbatasan dengan Laut Halmahera di sebelah timur, Laut Maluku di sebelah barat, Laut Pasifik di sebelah utara dan Laut Seram di sebelah selatan. Ibukota provinsi terletak di Kota Ternate.
Jumlah penduduk sebesar 960 ribu jiwa (Oktober 2008) dengan tingkat kepadatan penduduk 24 kilometer persegi (2008). Jumlah angkatan kerja pada bulan Agustus 2008 sebesar 422 ribu jiwa, penduduk yang bekerja sebanyak 394 ribu jiwa dan pengangguran sebanyak 27 ribu jiwa. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 6,48 persen.
Jumlah penduduk miskin pada tahun 2007 sebanyak 110 ribu jiwa (11,97 persen) dimana 89,35 persen berada di pedesaan. Upah Minimum Provinsi (UMP) tahun 2009 sebesar Rp 770.000. Jumlah penerima BLT (2005) menurut kategori sangat miskin sebanyak 27 ribu jiwa, miskin sebanyak 23 ribu jiwa, dan mendekati miskin sebanyak 17 ribu jiwa. Indeks Pembangunan Manusia provinsi ini di tahun 2006 adalah sebesar 67, 5, sementara angka indeks untuk Indonesia sebesar 70,1 pada tahun yang sama.
SUMBER DAYA ALAM
Pertanian, Perkebunan dan Perikanan
Luas lahan sawah di Provinsi Maluku Utara adalah 50 ribu ha yang terdiri dari lahan irigasi teknis dan lahan non irigasi teknis dan luas areal panen adalah 17 ribu ha dengan produksi padi sebesar 58 ribu ton/tahun. Produksi palawija yang dihasilkan sebesar 158 ribu ton/tahun dengan menggunakan lahan 22 ribu ha yang digunakan untuk tanaman jagung, ubi jalar dan ubi kayu. Luas lahan perkebunan adalah 546 ribu ha yang ditanami cengkeh, kelapa, pala, kakao, kopi, jambu mete, lada, vanili dan cassivera. Perkebunan kakao menghasilkan 17 ribu ton. Sektor perikanan tangkap memiliki produksi mencapai 524 ribu ton/tahun dengan potensi lestari sebanyak 478.382 ton. Perikanan secara umum sebesar 1,04 juta ton yang terdiri dari ikan pelagis besar, ikan pelagis kecil, ikan demersal, cumi-cumi, udang peneid, rumput laut, ikan kerapu, ikan nila, ikan mas, dan udang windu.
Kehutanan
Luas kawasan hutan adalah 2,86 juta ha yang terbagi atas hutan lindung, hutan produksi terbatas, hutan produksi, hutan konversi dan hutan PPA, dengan produksi kayu mencapai 101 ribu km2.
Pertambangan
Potensi pertambangan antara lain pertambangan nikel dengan cadangan 42,76 juta ton; emas dengan cadangan 192 juta ton; tembaga dengan cadangan 240 juta ton dan pasir besi dengan perkiraan cadangan 69 ribu ton. Pemanfaatan tambang emas dilakukan oleh PT Nusa Halmahera Mineral di Kao dan Malifut (Pulau Halmahera) serta biji nikel oleh PT Aneka Tambang di Pulau Gebe dan Pulau Pakal (Pulau Halmahera).
KONDISI EKONOMI TRIWULAN III-2009
Pertumbuhan ekonomi mengalami percepatan jika dibandingkan triwulan sebelumnya. Secara tahunan, pertumbuhan pada triwulan II-2009 sebesar 4,97% sedangkan pada triwulan laporan tumbuh 5,35%. Kinerja ekonomi yang terjadi pada triwulan laporan masih melanjutkan trend positif setelah kontraksi ekonomi yang terjadi pada triwulan IV- 2008.
Pertumbuhan ekonomi masih didominasi oleh konsumsi masyarakat dan pengeluaran pemerintah. Konsumsi rumah tangga memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 8,86% sedangkan pengeluaran pemerintah kontribusinya sebesar 5,54%. Pertumbuhan tahunan tertinggi adalah pengeluaran pemerintah yang tumbuh sebesar 22,74% (yoy) sedangkan secara tahunan ekspor mengalami penurunan sebesar minus 19,54% (yoy).
Tingkat investasi meningkat sebesar 11,50% (yoy) berbeda dengan triwulan sebelumnya yaitu sebesar 33,51% (yoy). Investasi masih didominasi oleh pembangunan infratruktur oleh Pemerintah Daerah. Sedangkan investasi swasta memiliki sasaran investasi utama di bidang perikanan dan pertambangan.
Sementara itu, sektor pertambangan & penggalian serta sektor listrik, gas & air bersih mengalami kontraksi, sedangkan sektor lainnya ekspansif. Sektor yang memberikan kontribusi tinggi terhadap pertumbuhan ekonomi adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran (2,18%), sedangkan sektor yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah sektor jasa-jasa (11,19%).
Tingkat inflasi di Kota Ternate mengalami penurunan dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun sebelumnya namun masih mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan tingkat harga pada Triwulan II-2009. Secara triwulanan inflasi sebesar 0,27%, sedangkan secara tahunan sebesar 1,36% lebih rendah jika dibandingkan dengan inflasi tahunan yang terjadi pada
triwulan III-2009 yang mencapai 4,34%.
Realisasi pendapatan hingga bulan maret 2009 adalah Rp 313,71 miliar rupiah dimana target anggaran yang ditetapkan adalah 721,4 miliar rupiah. Bila ditinjau lebih rinci, pendapatan yang berasal dari dana perimbangan memiliki posri terbesar, dengan tingkat realisasi mencapai 46,17%.
Dari sisi belanja daerah pada akhir Bulan Juni 2009 sudah terealisasi sebesar 37,37%. Share belanja langsung Pemda (termasuk belanja modal) lebih besar bila dibandingkan dengan belanja tidak langsung. Akan tetapi realisasi belanja tidak langsung justru lebih tinggi dari realisasi belanja langsung.
Sumber :
Asriani, Kholidah
http://nasional.vivanews.com/news/read/7397-provinsi_maluku_utara
5 November 2008
Ibu Kota Maluku Utara Sofifi
Aktivitas Pemerintahan Provinsi Maluku Utara, mulai Senin (11/1) pindah ke Kota Sofifi. Sebelumnya aktivitas berada di Kota Ternate. Pemindahan aktivitas ditandai konvoi ratusan speed boat yang membawa ribuan pegawai negeri dipimpin Gubernur Maluku Utara Thaib Armayin, menuju Sofifi, di wilayah administrasi Kota Tidore Kepulauan.
Sejak terpisah dari Provinsi Maluku 1999 lalu. Kabupaten Maluku Utara berubah menjadi Provinsi Maluku Utara dengan Ibu kota Sofifi. Namun keterbatasan infrastruktur membuat aktivitas pemerintahan dilaksanakan di Ternate.
Meski minim infrastruktur, Gubernur Thaib Armayin menyatakan pemindahan harus dilakukan sesuai amanat undang-undang. Sanksi tegas menunggu para PNS yang tidak mau berkantor di Sofifi.(RIZ)
Sumber :
http://www.metrotvnews.com/index.php/metromain/newsvideo/2010/01/12/97636/Ibu-Kota-Maluku-Utara-Sofifi
12 Januari 2010
Sejak terpisah dari Provinsi Maluku 1999 lalu. Kabupaten Maluku Utara berubah menjadi Provinsi Maluku Utara dengan Ibu kota Sofifi. Namun keterbatasan infrastruktur membuat aktivitas pemerintahan dilaksanakan di Ternate.
Meski minim infrastruktur, Gubernur Thaib Armayin menyatakan pemindahan harus dilakukan sesuai amanat undang-undang. Sanksi tegas menunggu para PNS yang tidak mau berkantor di Sofifi.(RIZ)
Sumber :
http://www.metrotvnews.com/index.php/metromain/newsvideo/2010/01/12/97636/Ibu-Kota-Maluku-Utara-Sofifi
12 Januari 2010
Pariwisata Maluku Utara
Potensi pariwisata di Provinsi Maluku Utara berupa wisata budaya dan purbakala, sejarah, ada istiadat yang dikenal dengan Kesultanan Moloku Kie Raha. Peninggalan-peninggalan sejarah masa silam antara lain Kadaton Sultan Ternate dan Kadaton Sultan Tidore.
Potensi wisata bahari berupa pulau-pulau dan pantai yang indah dengan taman laut serta jenis ikan hias, merupakan potensi utama dalam rangka mengembangkan wisata bahari.
Wisata alam seperti batu lubang yang tersebar hampir diseluruh wilayah, hutan wisata yang dapat diperuntukan bagi kepentingan taman nasional yang memiliki spesies endemik ranking ke 10 di dunia.
Dengan potensi seperti itu, maka pengembangan diarahkan pada lokasi-lokasi yang memiliki interaksi kegiatan wisata.
Kawasan suaka alam yang terdiri dari beberapa jenis, baik di daratan maupun wilayah perairan laut yang tersebar pada berbagai lokasi seperti : Cagar Alam Gunung Sibela di Pulau Bacan, Cagar Alam di Pulau Obi, Cagar Alam Taliabu di Pulau Taliabu dan Cagar Alam di Pulau Seho.
Kawasan Cagar Alam Budaya yang memiliki nilai sejarah kepurbakalaan tersebar di wilayah Provinsi Maluku Utara yang meliputi cagar alam budaya di Kota Ternate, Kota Tidore, Kabupaten Halmahera Barat, Kabupaten Halmahera Tengah, Kabupaten Halmahera Selatan, dan Halmaerah Utara.
Sumber :
Buku "7 Tahun Maluku Utara Membangun", dalam :
http://www.indonesia.go.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=3032&Itemid=1600
Potensi wisata bahari berupa pulau-pulau dan pantai yang indah dengan taman laut serta jenis ikan hias, merupakan potensi utama dalam rangka mengembangkan wisata bahari.
Wisata alam seperti batu lubang yang tersebar hampir diseluruh wilayah, hutan wisata yang dapat diperuntukan bagi kepentingan taman nasional yang memiliki spesies endemik ranking ke 10 di dunia.
Dengan potensi seperti itu, maka pengembangan diarahkan pada lokasi-lokasi yang memiliki interaksi kegiatan wisata.
Kawasan suaka alam yang terdiri dari beberapa jenis, baik di daratan maupun wilayah perairan laut yang tersebar pada berbagai lokasi seperti : Cagar Alam Gunung Sibela di Pulau Bacan, Cagar Alam di Pulau Obi, Cagar Alam Taliabu di Pulau Taliabu dan Cagar Alam di Pulau Seho.
Kawasan Cagar Alam Budaya yang memiliki nilai sejarah kepurbakalaan tersebar di wilayah Provinsi Maluku Utara yang meliputi cagar alam budaya di Kota Ternate, Kota Tidore, Kabupaten Halmahera Barat, Kabupaten Halmahera Tengah, Kabupaten Halmahera Selatan, dan Halmaerah Utara.
Sumber :
Buku "7 Tahun Maluku Utara Membangun", dalam :
http://www.indonesia.go.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=3032&Itemid=1600
Langganan:
Postingan (Atom)